Memilih Pendidikan

Pagi ini ada yang harus pergi ke sekolah atau ke kampus buat ikut upacara? Muehehehe. Ciye yang jadwal long-weekend bubar karena harus berdiri di lapangan sekitar 1 jam. Saya pagi ini akan ke kampus juga tapi tidak untuk ikut upacara. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Garuda UNY Racing Team mengadakan launching mobil tim yang akan berkompetisi di Korea Selatan dan Jepang tahun ini. Sebagai mantan anggota tim – tepatnya angkatan pertama yang pergi ke Korea Selatan pada tahun 2013 silam – saya merasa harus datang dan bersilaturahmi kepada para anggota yang baru dan para dosen adviser yang dulu membimbing kami hingga akhirnya kami mampu meraih prestasi di negara gingseng tersebut.

Ngomong-ngomong tentang pendidikan, saya rasa masih ada sebagian masyarakat yang menyepelekan. Mereka bilang, “Buat apa kamu kuliah? Toh ujung-ujungnya jadi karyawan.” atau berpendapat “Kalau tahu bakal jadi ibu rumah tangga, ngapain dulu kuliah? Buang-buang biaya. Mending langsung rabi wae, nok.

Okay….

Benar. Benar sekali. Benar sekali kalau kebanyakan orang kuliah sekarang ini hanya untuk jadi karyawan. Iya. Memang buang-buang biaya kalau ternyata perempuan mengenyam pendidikan tinggi tapi pada akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga.

Dan sangat tepat adanya apabila yang berpendapat seperti ini adalah orang-orang yang tidak melek pendidikan.

Pendidikan itu sangat luas. Pendidikan tidak hanya disediakan di dalam ruang kuliah yang ada di kampus saja, namun juga di luar perkuliahan. Untuk saya, kuliah membuka peluang lebih luas untuk terkoneksi dengan berbagai kalangan masyarakat dan salah satunya adalah masyarakat global. Tidak semua orang paham dan satu misi dengan orang seperti saya. Pasti ada banyak hal yang membuat orang merasa harus mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Bisa jadi memang untuk lebih mendapatkan pekerjaan, masih “haus” dengan ilmu-ilmu yang menjadi bagian dari passion mereka, atau… sekedar ikut-ikutan teman saja. Namun dari berbagai alasan tersebut, ada satu hal pasti yang menuntun seseorang untuk melanjutkan pendidikannya. Cita-cita.

Ingat ya dulu waktu TK atau SD, guru kita sering bertanya seputar cita-cita. Semua di kelas menjawab “Dokteeeeer!” dengan sangat keras. Ada pula yang ingin jadi polisi, guru, pedagang, atau sederhana menjawab ingin jadi seperti ayah atau ibunya masing-masing. Namun seiring berjalannya waktu, kita semakin mengerti dan realistis dengan kemampuan kita. Tidak semua orang berbakat jadi dokter, polisi, pedagang, atau pun seperti ayah ibunya. Akhirnya kita mengerucutkan target kepada satu hal yang kita idam-idamkan menjadi pekerjaan kita di masa depan dan jalan menuju hal itu adalah dengan mengenyam pendidikan.

Dengan pendidikan, tidak ada yang sia-sia. Apabila banyak yang mengalami salah jurusan ketika kuliah, yakin saja akan ada masanya nanti ilmu yang kita dapatkan akan kita terapkan juga walau tidak dalam waktu dekat. Education leads us to success. One day we’ll thank people who educate us. Tanpa para pendidik – orang tua dan guru-guru kita – kita tidak mungkin bertahan dalam ketatnya persaingan global saat ini. Selamat Hari Pendidikan Nasional, Indonesia.



No comments:

Silahkan tinggalkan kritik dan saran yang membangun. Boleh meninggalkan link blog, tapi mohon untuk tidak mencantumkan link hidup, ya! Terima kasih ;)

Powered by Blogger.