Berani Berhijrah dan Jangan Pernah Menyerah

Meet and Greet + Booktalk "Jangan Pernah Menyerah" bersama Aldilla Dharma Wijaya

Hujan deras di hari Jumat sore tanggal 07 April 2016 lalu tidak mengurungkan niatku untuk pergi keluar rumah. Ada tugas penting yang harus dikerjakan sih soalnya. Kamis sore aku dihubungi oleh pihak Gramedia Sudirman untuk menjadi moderator Meet and Greet dan juga Booktalk buku "Jangan Pernah Menyerah!" bersama sang penulis. Ada yang pernah tahu siapa orangnya?

Aldilla Dharma Wijaya. Dia adalah sosok dibalik buku "Jangan Pernah Menyerah!" yang terbit pada bulan Oktober 2015. Sebelumnya aku masih awam tentang buku "Jangan Pernah Menyerah!" ini sendiri. Akhirnya aku putuskan untuk web-search seputar buku ini dan voila, terkuaklah fakta bahwa penulis dari buku ini adalah penggagas dari forum yang identik dengan anak muda Indonesia islami masa kini yaitu #BeraniBerhijrah. Aldilla Dharma Wijaya yang biasa dipanggil Aldi ini adalah mahasiswa pasca sarjana Universitas Brawijaya yang masih menyelesaikan tesisnya di bidang Hukum.

Oke. Fakta-fakta seputar "Jangan Pernah Menyerah!" sudah didapat. Masalahnya, aku? Moderatornya harus aku banget nih? Sebagai seseorang yang ibadah aja belum sempurna, aku awalnya sangat minder. Buku "Jangan Pernah Menyerah!" ini kesannya aja udah islami banget. Kalau dilihat dari isinya pun, banyak banget ayat-ayat maupun hadist yang dicantumkan sebagai referensinya. Namun, apa sih sebenarnya buku "Jangan Pernah Menyerah!" dan #BeraniBerhijrah itu sendiri?

"Jangan Pernah Menyerah!" karya Aldilla Dharma Wijaya

Booktalk "Jangan Pernah Menyerah!" ini diawali dengan sesi perkenalan oleh Mas Aldi yang udah datang dari Kediri dan tiba di Jogja pukul 04.00 WIB. Setelah berkenalan dengan para peserta booktalk, dimulailah bincang-bincang seputar #BeraniBerhijrah. Forum #BeraniBerhijrah ini identik dengan anak muda yang islami. Namun menurut Mas Aldi, #BeraniBerhijrah sebenarnya tidak hanya untuk yang beragama islam saja. Nilai-nilai yang diangkat #BeraniBerhijrah sendiri mampu diterima secara universal karena inti dari "berhijrah" menurut Mas Aldi adalah berubah ke arah kebaikan. Mas Aldi beberapa kali mengemukakan bahwa kualitas diri dari seseorang yang berhijrah tidak bisa dinilai dari penampilan secara visual, namun lebih tertuju pada kualitas hati dan pikiran. 

Ada pepatah mengatakan "Don't judge the book by its cover". While in fact, people DO judge the book by the cover. Mas Aldi berpendapat bahwa orang-orang yang terlalu menghakimi seseorang hanya melalui tampilannya saja sebenarnya malah sama sekali tidak membantu orang tersebut untuk berubah ke arah yang lebih baik dan hanya menebar kebencian kepada sesama manusia. Menurutnya, goal menjadi sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mampu bermanfaat untuk orang lain. Lihat sisi positif dari orang-orang yang terkesan "negatif" tadi. Pasti ada sesuatu yang mampu kita contoh dari mereka dalam proses menjadi pribadi yang lebih baik tadi.

Antusiasme Pengunjung Gramedia Sudirman di Booktalk "Jangan Pernah Menyerah"

Dalam buku "Jangan Pernah Menyerah!", Mas Aldi banyak memberikan contoh kesuksesan dari orang-orang yang dianggap "kafir". Kafir dalam hal ini adalah bukan seorang muslim. Tidak seperti buku-buku islami lainnya yang hanya memberikan teladan dari perspektif tokoh-tokoh islam saja, Mas Aldi malah mencantumkan orang-orang seperti Einsten, Steve Jobs, dan banyak tokoh dunia lain yang bukan seorang muslim sebagai teladan di dalam buku "Jangan Pernah Menyerah!". Banyak hal positif yang mampu dicontoh dari kesuksesan para tokoh tersebut. Salah satu hal yang patut dicontoh dari mereka adalah ketekunan dan kebiasaan yang membawa pada sukses itu sendiri.

Mas Aldi sebagai penggagas dari #BeraniBerhijrah dan penulis dari "Jangan Pernah Menyerah!" berkali-kali mengajak teman-teman yang ingin berani dalam berhijrah untuk senantiasa berprinsip dan berpikir. Di era digital seperti sekarang ini, banyak dogma maupun doktrin bertebaran secara mudah di social media. Apabila kita tidak berpikir dan berprinsip, kita bisa dengan mudah terbawa arus. Dunia ini penuh dengan hitam dan putih. Apabila seseorang bermain piano dengan memainkan tuts putihnya saja, pasti akan membosankan dan tidak berirama. Pasti ada kalanya memainkan tuts hitam. Begitu juga kehidupan. Apabila seseorang terlihat putih di luar, pasti ada hitam yang tidak nampak kasat mata. Begitu juga sebaliknya. Seseorang yang penuh dengan hitam, pasti mempunyai putih yang orang tidak ketahui ada pada dirinya. Siapa pun mampu berhijrah menuju ke arah yang lebih baik. Sedikit demi sedikit saja apabila dirasa perubahan yang begitu drastis terlalu menakutkan. Percaya kepada Allah dan jangan pernah menyerah untuk terus melangkah adalah kuncinya.

No comments:

Leave your comment and your blog URL so that I can blogwalking to yours ;)

Powered by Blogger.