411 ke 911: Rasisme Tak Berkesudahan


Quotes dari Nelson Mandela di atas bikin hati adem ya?

Sayangnya, awal bulan ini situasi sosial seakan-akan PANAS banget rasanya. Panasnya cuacanya, panas hatinya, panas juga isi timeline media sosialnya. Tanggal 4 November lalu, seperti yang kita ketahui di hari itu terjadi "demo" di Jakarta yang bikin semua orang di sosial media ngoceh mumet kalau kata salah satu temenku. Semua orang menanggapi dengan opini masing-masing dan kebanyakan berpihak lebih berat sebelah daripada yang lain. 

Katakan aja aku sok tahu, tapi yang aku tahu ini masalahnya karena Ahok menyebutkan seputar salah satu ayat Al-quran yang bukan jadi kewenangan dia untuk menyebutkan seputar ayat itu karena dia non-muslim. Ternyata pernyataannya itu terekam oleh seseorang bernama Buni Yani yang katanya ngedit rekaman pernyataan Ahok jadi seolah-olah Ahok mengatakan ulama berbohong apabila menyampaikan tentang ayat Al-quran tersebut.

Bener enggaknya juga nggak tahu karena aku nggak di lapangan dengan beliau-beliau yang aku sebutkan di atas pada saat itu.

"Demo" yang terjadi tanggal 4 November lalu adalah aksi damai. Aksi damai yang dimulai dengan sholat Subuh berjamaah di Masjid Istiqlal dan berlanjut dengan berkumpul di Bundaran HI. Penggalangan dana juga dilakukan untuk membantu saudara-saudara yang berpartisipasi dalam aksi damai dengan membayar ongkos transportasi dan makan mereka. Sholat jumat pun dilakukan di jalan dengan jamaah yang terdiri oleh para "demonstran" dan polisi. Aksi damai pun berlangsung lancar dan sampah-sampah nggak berserakan sembarangan di jalan.

CUMA MASALAHNYA ada pihak-pihak nggak bertanggung jawab di dalamnya, yang menyulut api kemarahan di antara massa yang berkumpul dengan pernyataan dan aksi provokatif yang memicu kemarahan massa terhadap tokoh yang disasar pada saat itu, yaitu Ahok dan ujung-ujungnya ke Jokowi. Mungkin tujuan awalnya mau "demo" Jokowi juga, aku nggak tahu. Pada saat itu, timeline penuh dengan hashtag #BunuhAhok, #PenjarakanAhok, #PresidenKemana, dan pernyataan-pernyataan SARA yang bikin mata sepet.

Sampai akhirnya aku jadikan tanggal 4 November 2016 sebagai "Unfollow and Unfriend Day" demi menjaga timeline sosial media dari hates speech dan status sok pinter orang-orang yang doyan share dengan baca caption dan judul aja.

Lalu kemarin, tepatnya tanggal 9 November 2016, hasil akhir pemilihan presiden Amerika menyatakan bahwa Donald Trump resmi menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat. Hasil vote yang lebih tinggi dari kandidat pesaingnya, Hillary Clinton, bikin aku mulai berpikir ulang, sebenernya apa yang lagi terjadi di Amerika?

Not that I mention if perhaps Hillary Clinton is any better. No. Aku nggak tahu politik apa yang akan dijalankan Hillary kalau memang benar dia yang jadi presiden AS. Masalah milih presiden di negara demokrasi jaman sekarang macem milih mana yang nggak paling buruk dari yang paling buruk.

Tapi masalahnya yang jadi presiden terpilih adalah Donald Trump.

I mean, why? Why him? Oh God. The whole world had been trolled today and for the next 4 years. Well, that what I feel. I feel trolled yesterday like this whole things was a ruse.

 Baca juga: Memahami Perbedaan

Hmm, kalau dipikir lagi, kenapa kejadian 4 November sama 9 November ini rasanya berkaitan ya? Apa yang yang bikin 2 tanggal ini bikin timeline heboh nggak karuan?

Jawabannya adalah isu SARA, di mana keberadaan dari perbedaan dianggap mengancam dan berbahaya. Isu yang gampang banget bikin orang sensi, apalagi di era digital yang menyebabkan informasi begitu cepat tersebar. Parahnya, kebanyakan orang yang "nimbrung" di media sosial tidak melakukan background check mengenai isu tersebut dan dengan mudahnya menyebarkan berbagai infromasi hoax yang berpotensi memecah belah persatuan.

Aku pribadi menilai aksi 411 bukanlah aksi asal-asalan. Menurutku nggak gampang untuk mengumpulkan massa segitu banyaknya kalau perkaranya sepele. Permasalahannya ada saja provokator, baik orang-orang yang terlibat maupun tidak di aksi tersebut, menyebarkan kalimat-kalimat kebencian yang menolak untuk bertoleransi kepada yang berbeda, menuduh kafir orang-orang yang memilih untuk berdoa dalam "diam", atau pun yang terang-terangan menghina agamaku dan menuduh kaum agamaku sebagai pembunuh.

Nggak semua dari kita tuh paham masalah agama kita sendiri. Banyak di antara kita yang masih belajar dan berusaha memahami. Begitu juga aku. Lha kalau aku belum paham dan aku dituduh toleransi kebablasan atau kafir juga, gimana aku mau simpati sama kalian, wahai teman-teman yang sudah aku unfriend dan unfollow di facebook? 

Begitu pula orang-orang sok tahu yang menghina terang-terangan bahwa agamaku tidak menerima perbedaan. Kamu tahu apa? Paham kami mengajarkan, "Bagimu agamamu, bagiku agamaku". Aku nggak peduli kamu agamanya apa, aku nggak bakal ikut campur masalah agamamu karena aku nggak tahu apa-apa. Jadi kalau kamu bukan golongan agamaku, nggak usah sok tahu masalah agamaku, wahai teman-teman yang sudah aku unfriend dan unfollow di facebook.

Kejadian 411 bersambung ke 911, dimana presiden terpilihnya adalah kandidat yang terang-terangan menghina kaum selain kaum kulit putih. 

Then it hits me.

The hate speech, the fear of "stranger", the racism, the sexism, the prejudice, and the homophobia DOES exist in US and the majority of the people can be persuaded by those issues.

Isu SARA ini memang nggak akan pernah habis karena berbagai stereotype yang udah kadung nemplok di tiap-tiap pribadi. We distinguish by labels. Those labels are race, religion, country, sex, color, and many other things. Kita perlu belajar dan terus membiasakan diri dengan perbedaan-perbedaan tersebut dengan berusaha menghilangkan label yang terlanjur melekat di masing-masing diri kita. Semua kembali ke orangnya sendiri lagi kok, terlepas apapun labelnya. 

Di postingan ini, aku mau minta maaf kalau ada kata-kata nggak berkenan di hati para pembaca. Aku bukan pengamat ahli yang berkutat dengan berbagai jurnal ilmiah untuk membuktikan kata-kataku di postingan ini. Aku menulis ini berdasarkan opiniku sendiri setelah beberapa kali melihat fenomena yang terjadi di lingkungan timeline media sosialku. Aku akan sangat menghargai komentar-komentar yang membangun dan positif dari teman-teman yang mampir baca postingan ini.

See you on the next post!


6 comments:

  1. Aku termasuk yang milih sebagai silent reader. Bener seperti mbak Hanifa bilang, kalau kita ga ada dilapangan, tidak tahu yang sebenarnya, kenapa harus berkoar-koar.
    Saya kadang bingung, mengaku atau merasa memahami demokrasi, tapi saat orang lain berpendapat beda, malah ngeyel kalau pendapatnya paling benar.
    Well, selama namanya maish manusia, mungkin ya begitu ya, mbak, masih mudah ditutupi nafsu. HIngga standar tertinggi, standar ilahi, malah sering diingkari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak memag lebih baik untuk masalah sensitif seperti ini tidak usah banyak komentar. Kita cukup pantau aja sambil menganalisis dalam diam. Media sekarang banyak yang berpihak. Nggak bisa dibedain mana yang benar/salah. Semoga kita termasuk golongan yang nggak terprovokasi...

      Delete
  2. Nice writing mba.. Setuju bgt dg tulisan mba

    ReplyDelete
  3. Artikel yang kaya informasi, bahasanya lembut,mengalir,luwes,n berawasan tinggi,jujur saya sangat menikmatinya, bukan cuma di indonesia berita di luar pun dapat bagian,terima kasih untuk tulisannya mba,
    Salam silaturahim n salam menulis kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak Mas atas komentarnya. InsyaAllah akan menulis lebih baik lagi :)

      Delete

Leave your comment and your blog URL so that I can blogwalking to yours ;)

Powered by Blogger.