1/28/17

Mommy's Always Right, Even When She's Wrong


Yesterday, I had to face something that sucked up all my emotions. Kemarin... melelahkan sekali buatku. Biarkan aku jelaskan kepadamu.

Januari 2017 adalah puncak dari semua emosi campur aduk yang aku pendam selama ini. Tidak pernah menyangka kalau ternyata aku akan menghadapi masalah yang selama ini aku berusaha hindari. Ternyata usahaku tidak maksimal untuk menghindari masalah yang aku punya saat ini. Pada saatnya aku harus mengalami, aku tidak kuat. Aku bukan orang yang expert masalah ketahanan emosi.

Sampai akhirnya emosiku tumpah dan aku merasa ingin menyerah. Rasanya gejala depresi sudah aku alami dan hampir saja aku berhenti berusaha lagi. Aku capek. Capek dengan semua anggapan negatif tentang aku yang selalu orang lontarkan dengan mudah dari mulut mereka. Saat aku berusaha berpikir positif, respon negatif tetap saja aku dapatkan.

Aku sudah capek! 

Aku capek berpura-pura bahwa aku baik-baik saja, bahwa semua ini akan berujung manis saat tiba waktunya. Aku capek berandai-andai tentang emasnya masa depan saat kelamnya badai masih aku rasakan. Aku capek memposisikan diriku sebagai si kalah, yang pada kenyataannya aku tidak salah.

Sendiri. Hanya itu yang aku rasakan saat ini. Hilang arah? Ya, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan posisiku saat ini.

Baca juga: Aku Enggan Dewasa

Tapi sungguh jahat diriku, melupakan orang-orang yang masih sayang kepadaku. Mereka yang masih dengan setia menyemangatiku walau aku berkali-kali mengeluhkan hal yang seakan sia-sia kepada mereka. Aku masih dikelilingi api yang tak pernah padam memotivasi diri. Ada satu orang di antara mereka yang selalu dan tidak pernah lelah untuk berdoa dan membimbingku menjadi pribadi yang lebih baik.
 
Dia adalah ibuku.

Aku sempat menangis histeris karena aku tidak tahan lagi dengan cobaan yang Tuhan berikan kepadaku. Ibu ada di sana, menenangkan, mengingatkanku untuk mengucap Istighfar, menahanku untuk berbuat sesuatu yang di luar kendaliku, dan memelukku erat sambil berkata, "Nduk... uwis nduk... uwis..." (Nak... sudah nak... sudah...).

Tangisanku tidak berhenti. Aku lanjutkan dengan makian-makian yang selama ini aku telan. Pelukan ibu terasa makin erat hingga aku akhirnya lelah menangis dan berteriak. Aku kembali ditenangkan dan pelukan ibu lepas saat aku mulai merasa lemas.

"Uwis?"
"Sampun..."
"Saiki tak kandhani ya... Ibu ora tau kecewa karo kowe. Wong liya ora tau ngerti apa wae sing mbok lakoni. Tapi ibu ngerti, ibu paham. Isih ana wektu nggo ngrampungke. Sholate aja lali, kudu luwih apik. Ditambah karo ibadah liyane. InsyaAllah Gusti Allah ngewangi. Delok wae mengko."

Baca juga: Mom's Feeling


Hatiku kembali tenang. Ritme nafasku yang tadinya tersengal-sengal, kini kembali normal. 

Ibu, sudah hampir 25 tahun aku menjadi anakmu, tak pernah sekalipun aku merasa bahwa aku telah berhasil membanggakanmu. Kalau ibu harus memilih anak mana yang harus ibu beri cinta, bukan aku yang pantas jadi pilihan utama.

Kenapa ibu terus mendorongku dengan kata-kata positif? Ada ibu di luar sana yang menghinaku dengan ungkapan negatif. Tapi tidak dengamu, Bu. Ibu terus membina walau aku terus-menerus membuatmu kecewa.

Apa jadinya kalau ibu tidak ada?

Bayangan akan ketiadaan itu adalah mimpi buruk bagiku. Aku tidak mau mengimajinasikan sesuatu yang begitu menyedihkan bagiku. Tapi, Bu, bila tiba waktunya ibu tidak bersamaku lagi, aku akan mencoba ikhlas. Nyatanya bayangan itu membuatku sadar bahwa mulai saat ini aku harus selalu memberikan yang terbaik kepadamu.


Baca juga: Memory of Grandpa

Ibu, aku tidak akan berhenti hanya karena aku merasa lelah dan ingin menyerah. Because you never give up on me. Neither do I.

"A mother is the truest friend we have, when trials heavy and sudden fall upon us; when adversity takes the place of prosperity; when friends desert us; when trouble thickens around us, still will she cling to us, and endeavor by her kind precepts and counsels to dissipate the clouds of darkness, and cause peace to return to our hearts"

 ― Washington Irving

I love you, Mom. With all my heart.



(PS: Tulisan ini bukan karangan fiksi. Ini benar-benar aku alami hari Jumat kemarin. Semua yang aku tulis di sini menjadi bahan refleksi untuk aku dan teman-teman yang sekiranya merasakan hal yang sama. See you on the next post!)

16 comments:

  1. saya ngerasain banget gimana sulitnya ditinggal ibu, tidak ada lagi pelukan hangat,tidak ada lagi motivasi,tidak ada lagi teman curhat. Tapi semakin lama saya semakin banyak belajar bagaimana sosok ibu itu hadir dalam diri agar saya tidak terlalu bergantung pada orang lain. hehe

    Well, semoga ibunya sehat selalu ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah ibunya Mas mendapatkan tempat terbaik di sisiNya.. Iya Mas, selagi beliau masih ada, saya akan terus berupaya membahagiakan ibu saya..

      Terima kasih doanya, Mas :')

      Delete
  2. Mengenai tokoh di buku tersebut aku juga ada kemiripannya sedikit, yaitu aku bukan orang yang bisa menahan emosi...kadang meledak tak keruan ..ujung-ujungnya ya nangis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku? Mbak, ini beneran saya, bukan karangan fiksi :')

      Delete
  3. Whenever I tell my failures to my mom, she always says "Kamu nggak akan nyerah kan Bar?" Instead of "kalau gagal lagi gimana?".

    See you on top Va! Mari sama-sama berjuang!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh my God... Bar, now I become super sensitive when it come to Mom... She's always that positive person too.

      Thank you, Bar! Let's crawl to the top! :')

      Delete
  4. Waah Anda hebat , saya suka Setiap artikel yang anda bagikan , Terus Berinspirasi :D , Salam Motivasi :D

    ReplyDelete
  5. Semangat mbak... Bersyukur memiliki ibu yang selalu pengertian dan selalu memberi dorongan positif kepada mbak. Saya sendiri sebagai ibu masih belajar banya untuk bisa menjadi ibu yang bisa selalu memberi semangat positif kepada anak2 kami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mak Vety~

      Semoga bisa menjadi teladan kita sebagai ibu. Nggak ada ibu yang sempurna. Tapi saya tahu setiap ibu pasti mengusahakan yang terbaik untuk putra-putrinya :')

      Delete
  6. Hiks jadi kangen ibuku. Kami tinggal beda kota soalnya TFS mbk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa jadi obat rasa kangen ya Mak :')

      Delete
  7. You really have a great mom Mbak Hanifa. Saya ga gitu dekat sama ibu saya tapi waktu saya mengalami hal paling down dan cobaan, ibu saya ada di samping saya waktu itu. Sama kayak kamu, saya kadang ngerasa saya bukan anak yang bisa membanggakan orang tua. Saya juga tipe meledak kalau udah ga bisa nahan emosi. Memang orang lain pasti ada aja yang ga suka sama kita tapi biarlah itu dosa-dosa mereka mbak..urusan hidup kita sepenuhnya sama Tuhan. Semangat ya mbak :')

    www.blueskyandme.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. She's a great Mom, Mbak Monalisa. Kita beruntung punya ibu yang sedemikian pengertiannya sama kita. Semoga kita juga bisa seperti beliau yang tidak pernah lelah memberi yang terbaik buat kita. Semangat juga untuk kamu :')

      Delete

Silahkan tinggalkan kritik dan saran yang membangun tanpa mencantumkan link hidup, ya! I appreciate it so much.