Menikah dengan laki-laki yang ditakdirkan Allah sebagai suamiku, rasanya membahagiakan sekali. Bisa menikah dengannya pun menjadi momen yang nggak pernah aku duga. Sebelumnya aku pernah berpacaran putus-nyambung dengan mantan hingga 10 tahun. Waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa aku selalu berusaha kembali ke hubungan yang nggak sehat, baik bagi aku maupun mantan.
Terlepas dari masa lalu yang kami pernah lewati, aku merasa pernikahan pada tahun pertama begitu menantang. Transisi dari "aku" menjadi "kita" ternyata nggak semudah itu. Aku bahkan udah di titik memahami keputusan seorang teman yang hanya menikah 2 minggu. Memang pernikahan tuh serumit dan sekompleks itu. Nggak heran kalau ikatan ini dinilai sebagai penyempurna separuh agama di Islam.
Baca juga: Nothing's New, But I'm Married Now
Ujian pernikahan pada tahun pertama umumnya berkisar pada penyesuaian rutinitas dan komunikasi. Setidaknya itulah yang aku asumsikan sebelumnya. Ternyata ada berbagai macam tantangan baru yang aku hadapi bersama suami. Salah satunya adalah kondisi kesehatan orang tua yang semakin menurun seiring pertambahan usia mereka.
Udah lebih dari sebulan ini bapakku menjalani perawatan stroke di rumah. Di usianya, serangan stroke merupakan sesuatu yang lumrah. Tapi bagiku, bapak terkena stroke adalah hal yang nggak pernah aku sangka. Bapak adalah salah satu orang terdisiplin di keluarga kami.
Disiplin berolahraga, menjaga pola makan dan rutin konsumsi obat-obatan. Sampai bulan lalu, beliau sempat skip obat selama 2 hari di antara perjalanan kerjanya. FYI, bapak bekerja sebagai travel guide dan sempat menemani tamu mendaki ke Bromo dan Ijen. Pekerjaannya termasuk stressful dengan agenda bepergian yang tergolong padat dan istirahat yang minim.
Apa yang terjadi pada bapak otomatis mempengaruhi kehidupan keluargaku. Walau aku udah nikah dan memiliki suami sebagai kepala keluarga, tapi kondisi bapak saat ini membuat posisiku juga menjadi kepala keluarga baru, terutama untuk ibu. Banyak keputusan yang perlu aku ambil terkait kondisi bapak ddan ibu, serta keluarga secara general.
Melelahkan. Sejujurnya aku takjub bisa bertahan sejauh ini dengan segala hal yang terjadi pada tahun pertama pernikahan. Walau secara keseluruhan ini terasa berat, aku tetap bersyukur. Ada banyak rejeki berupa pekerjaan, kesehatan, hingga hubungan keluarga dan pertemanan yang banyak membantuku melewati kesulitasn ini.
Baca juga: Pernikahan Bukan Sekedar Pesta
Menjelang akhir quarter ketiga, aku cuma pengen menjalani hidup dengan lebih tenang. Menjadi medioker adalah sebuah kemewahan bagiku saat ini. Semoga kehidupan yang dar der dor ini selalu menemukan jalannya menuju ke keseimbangan yang menenangkan, terutama bagi aku dan keluarga.

Post a Comment