Peka Masalah Kesetaraan Gender di Indonesia Melalui Jurnalistik Sensitif Gender


Pertemanan cowok tuh emang penuh makian, tapi jujur. Nggak kayak cewek yang sukanya muji-muji, ternyata fake

Seketika saya gregetan saat mendengar pernyataan tersebut. Saya pun pernah membaca artikel dengan judul serupa dan langsung memicingkan mata sambil membaca isi artikelnya. Nggak perlu saya kasih tau lah siapa yang nulis. Ternyata, saya pernah secara ((( nggak sengaja ))) satu kantor sama si penulis, yang menurut saya, super seksis ini. Apalagi saat menyadari bahwa saya perempuan dan dikatain punya pertemanan palsu yang penuh pujian. Huwasyeng nggak sih rasanya?

Saya pun sempat menuliskan opini balasan yang saya tujukan untuk tulisan itu dengan judul “Persahabatan Perempuan Penuh Pujian Tapi Palsu, Benarkah?”. Waktu tulisan ini terbit, saya bolak-balik cek kolom komentar di web media online mainstrean yang menerbitkannya. Halah, sama aja ternyata reaksinya. Sama-sama ngejelekin perempuan sebagai makhluk penuh kepalsuan.

Parahnya, yang ngejelekin juga sesama perempuan! EALAAAAH.


Lagi, kasus lain yang serupa tapi tak sama. Serupanya ada di bagian perempuan ngehujat perempuan, padahal yang salah nggak sepenuhnya di pihak perempuannya aja. Masih inget kasus Bu Dendy yang bikin fenomena mandi duit di media sosial beberapa waktu yang lalu? Siapa yang paling bersalah di situ? Kebanyakan orang pasti menghujat si pelakornya DOANG. Pak Dendy? CHILL. Sans ajha sambil liat selingkuhannya disiram duit.

WHAT THE F- BANGET, NGGAK?

Kejadian semacam ini selalu kita temukan, bahkan hampir setiap hari, di berbagai media. Postingan-postingan di media sosial maupun media online mainstream, banyak sekali membahas hal-hal serupa yang sering memojokkan perempuan. Selain perempuan, anak-anak pun sering jadi korban pemberitaan yang disimpangkan.

Kita ambil contoh yang baru-baru aja kemaren terjadi, seperti kasus Bowo Alpenlibe. Siapa yang sebenernya salah di sini? Netizen sih mayoritas nge-bully si Bowo. Dia di-bully karena netizen menganggap dia terlalu berlebihan sampe di-Tuhan-kan fans dan membuat “meat & greet” yang secara kaidah bahasa salah banget. Padahal Bowo hanya seorang anak yang gemar bikin konten di aplikasi Tik-Tok.


Kalau pemberitaan di media udah kayak gini, siapa yang jadi korban? Para perempuan dan anak-anak lah yang kena getahnya. Inilah yang akhirnya menggerakkan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menggandeng blogger serta content creator yang tergabung dalam Komunitas Blogger Jogja untuk membantu “menyadarkan” masyarakat agar lebih peka dengan pemberitaan sensitif gender dan anak.

Bertempat di Hotel Grand Keisha (9-10/07/2018), saya dan temen-temen blogger Jogja mengikuti pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender yang diselenggarakan oleh forum komunikasi KPPPA. Agenda pelatihan selama 2 hari itu diisi dengan materi dari dr. Arida Oetami, M.Kes, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY dan workshop bersama Mas Budhi Hermanto, konsultasn dan researcher Masyarakat Peduli Media.

Permasalahan gender di D.I. Yogyakarta

Selama ini, permasalahan gender jadi isu yang nggak abis-abis untuk diulik. Dipojokkannya perempuan, misal dalam kasus lebih kecilnya gaji perempuan dibanding laki-laki, hanya sebagian kecil dari masalah gender yang ada di masyarakat Indonesia, khususnya D.I. Yogyakarta. dr. Arida Oetami selaku kepala BPPM DIY pun menjelaskan masalah terkait dengan menyuguhkan berbagai data statistik, yang buat saya pribadi, cukup mengiris hati.

Pembedaan gender di masyarakat mengakibatkan berbagai kesenjangan dan kenggakadilan gender. Beberapa di antaranya seperti berikut ini:
  1. Marginalisasi (peminggiran), seperti masalah perempuan yang digaji rendah atau nggak mendapatkan tunjangan anak.
  2. Subordinasi (penomorduaan), seperti asumsi bahwa perempuan nggak layak menjadi pimpinan perusahaan karena dianggap lebih emosional & irasional.
  3. Stereoripe (pelebelan), seperti anggapan bahwa perempuan yang diperkosa adalah perempuan yang nakal & nggak beradap.
  4. Kekerasan, baik fisik maupun psikis.
  5. Beban ganda, seperti melakukan pekerjaan rumah tangga dan bekerja di luar.

Beberapa masalah gender dan anak di DIY

Di DIY sendiri, permasalahan gender yang terjadi juga sangat beragam. Beberapa kasus dan isu terkait gender tersebut di antaranya:
  1. Kekerasan terhadap perempuan dan anak yang lebih banyak terjadi di dalam rumah tangga. Secara nggak sadar, kekerasan terhadap perempuan dan anak malah lebih banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat, yaitu di lingkungan keluarga. Eh, memaksa anak untuk menjadi yang nggak diinginkannya, itu juga termasuk tindak kekerasan secara pskis, lho.
  2. Tingginya angka perceraian dan dispensasi nikah. Saya ingat salah satu teman yang berbagi pengalamannya saat mengajukan cerai. NGANTRI COY. Cerai aja ngantriii, astaga. Surat cerai udah macem sembako. Dispensasi nikah pun cukup banyak dan biasa terjadi karena kehamilan yang nggak diinginkan di kalangan remaja. Miris banget...
  3. Banyaknya lansia perempuan yang terlantar. Kalau punya anggota keluarga yang sudah lansia, lebih baik diajak tinggal bareng. Kalau kita mengurus beliau secara ikhlas, InsyaAllah juga jadi ladang amal. Selain itu, ntuk kamu yang punya tetangga lansia, lebih sering dijengukin yah. 
  4. Jumlah perempuan di ranah politik dan pemerintahan DIY yang masih sedikit. Ini yang sering menyebabkan kebijakan politik jadi nggak ramah perempuan.
  5. Banyaknya pengguna narkoba di DIY, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Selain itu, banyaknya kasus putus sekolah juga jadi masalah di kalangan remaja.

Lebih peka dengan pemberitaan sensitif gender

Jumlah “korban” dari kasus-kasus tersebut bisa kita kurangi, kalau kita sadar dan peka. Temen-temen blogger dan content creator pun punya andil besar dalam proses menyadarkan dan mengasah kepekaan masyarakat mengenai bahasan sensitif gender ini. Beruntung, Mas Budhi Hermanto berbagai ilmu kepada saya dan temen-temen blogger yang juga penggiat media sosial mengenai bahasan ini, terutama di ranah jurnalistik.

Belajar jurnalistik sensitif gender bersama Mas Budhi Hermanto

Belajar jurnalistik sensitif gender

Pada sesi ini, Mas Budhi sharing beberapa kasus terkait permasalahan gender yang sering diberitakan media. Menurut Mas Budhi, blogger sebagai penggiat media sosial dan jurnalis independen, punya anbil besar untuk mengubah mindset masyarakat yang sudah kadung terbentuk  karena pemberitaan-pemberitaan yang menyimpang mengenai perempuan dan anak.

Untuk itu, Mas Budhi sudah menyiapkan 5 kasus berbeda yang diberitakan pada 5 artikel berbeda pula. Artikel-artikel ini diberikan kepada para blogger yang terbagi dalam 5 kelompok berbeda. Kami diminta untuk mengritisi dengan mengoreksi dan menulis ulang artikel tersebut supaya nggak menyimpang dari kaidah jurnalistik dan tetap menghargai perempuan dan anak di dalam pemberitaan tersebut.

Mas Budhi mengoreksi artikel "menyimpang" yang diberikan kepada kelompok kami

Dari sesi ini, ada beberapa pelajaran yang saya ambil:
  1. Berita sebaiknya nggak disertai pendapat pribadi wartawan
  2. Penyimpulan secara umum seharusnya dengan bukti yang relevan. Jangan Cuma katanya-katanya.
  3. Berita nggak perlu disertai penyebutan kata sifat terhadap korban.
  4. Isi berita seharusnya nggak menyalahkan korban karena perilakunya. Udah jadi korban secara fisik, malah jadi korban lagi secara psikis melalui pemberitaan yang memojokkannya.
  5. Narasumber jangan berasal dari pelaku.
  6. JANGAN menceritakan detail peristiwa kekerasan seksual. Yha kan jadi ngebayangin dong pembacanya.

Membuat konten sensitif gender

Di sesi ini, setiap kelompok diberikan tugas untuk membuat suatu advertorial yang berkaitan dengan isu sensitif gender. Advertorial ini bisa berupa teks, foto, maupun video, yang isinya tentang isu/permasalahan gender. Kelompok saya bikin konten foto yang isinya kurang lebih tentang peran perempuan yang bisa bersikap layaknya lelaki dan lelaki yang bisa mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan perempuan.

Hasil karya kelompok kami. Ada admin ICJ (Info Cegatan Jogja) yang lagi nyiram tanaman... 
pake detergen. Stress, lur!

Dari pelatihan jurnalistik sensitif gender ini, saya mendapatkan banyak banget pencerahan seputar permasalahan gender. Masalah kesetaraan gender bukan berarti perempuan harus balas dendam kepada laki-laki agar merasakan hal yang perempuan dan anak-anak alami. Kesetaraan gender ini adalah PR semua orang, agar laki-laki dan perempuan bisa hidup berdampingan secara harmonis, tanpa mendiskriminasi satu sama lain.

Nah, kalau dari pengalamanmu sendiri, permasalahan gender seperti apa yang pernah kamu atau orang-orang di lingkunganmu alami? Share di kolom komentar yak!

6 Comments

Kontengaptek said…
Wahh saya suka sama tulisannya mbak..
Rapih dan enak dibaca .

Plus gambarnya yg di artikel itu lohh, bisa bergerak sendiri.. Hehe

Keren dah pokoknya..
Hanifa said…
Kontengaptek: Hhehehe terima kasih :)
Turis Cantik said…
ide tulisannya asik dibacanya mbak
Hanifa said…
Mak Tira: Sama sama Mak
Hanifa said…
Turis Cantik: Thank you banget Kaaak semoga bermanfaat :D