Cegah Black Campaign dengan Kekuatan Media Sosial dan Blog Melalui 5 Cara Ini



*unfriend*
*unfollow*
*mute*
*block*
*report*

Familiar nggak dengan istilah-istilah tersebut? Kalau kamu sering buka medsos, pasti nggak asing lagi. Buat saya pribadi, istilah-istilah tersebut adalah kata kerja yang terpaksa dilakukan saat kondisi maupun situasi di timeline media sosial saya mulai nggak enak. 

Saat pake media sosial pertama kali, waktu itu Friendster, saya jarang banget melakukan hal-hal yang memutus tali networking semacam ini. Tapi makin ke sini, suasana media sosial somehow makin nggak asyique. Nggak ada sesuatu yang bikin saya super excited kayak jaman ngurus Friendster dulu. Kalau dibilang bosen, nggak juga. Cuma ada perasaan nggak nyaman yang sering mengganggu aja. Saya pun jadi makin sering menekan 5 pilihan tersebut di media sosial. Kenapa ya kira-kira?

This: HOAX.

Di tengah ramainya dunia maya yang nggak bisa dikontrol oleh sebagian kecil orang aja, hoax news masuk dengan sangat mudah. Berita hoax ini nggak kenal usia. Dari anak kecil generasi Z sampe orang tua generasi baby boomers, semua bisa nyebarin berita hoax. Berita-berita semacam ini yang sering dijadikan alat oleh sekelompok orang untuk menyetir mindset masyarakat di media sosial. Persebarannya? Jangan tanya. Udah pasti cepet banget! And this will lead us to a thing called Black Campaign.

Black Campaign might be such a good publication for some people. But, it’s wrong, like... so wrong in many levels. Media sosial jadi penuh dengan ujaran kebencian. Semua orang seakan jadi menyalahkan satu sama lain dengan pilihan mereka masing-masing. Niat berselancar di dunia maya buat cari hiburan, lihat yang begini malah makin stress.

Beruntung, pada 25 April 2018, saya berkesempatan untuk dapet lebih banyak insight mengenai cara-cara untuk mencegah Black Campaign. Bertempat di Grand Serela Hotel, saya dan 5 teman blogger lain mengikuti seminar “Kekuatan Media Sosial dalam Pemberantasan Korupsi dan Cegah Black Campaign Jelang Pemilu”. Para pembicara seperti Sudirman Said, Abdullah Hehamahua, dan Kombes Pol Gatot Agus Budi turut hadir untuk mengedukasi para peserta mengenai pencegahan kampanye hitam jelang pemilu 2019.


Dari seminar tersebut, ada 5 hal yang bisa kita lakukan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan Black Campaign melalui media sosial maupun platform blog. Buat temen-temen blogger, topik ini juga bisa jadi ide nulis berikutnya. Starting from blog, then to social media. Jadi, apa aja yang bisa kita lakukan untuk mencegah Black Campaign?

1. Share berita-berita positif yang membangun

Berapa kali dalam sehari kamu lihat berita positif bersliweran di timeline-mu? Kalau setiap kamu buka Facebook atau Twitter langsun dihadapkan dengan headline berita negatif, saya yakin suasana hati jadi ikutan nggak enak. Mungkin sepele yak cuma lihat doang. Tapi kalau terpapar judul-judul berita yang kesannya negatif terus-terusan, mindset kita juga bisa terpengaruh. 

Coba mulai share berita-berita positif di media sosial agar orang lain juga mendapatkan pengaruh positif dari apa yang kita share. Jangan lupa untuk courage teman-teman di dunia maya untuk ikut share berita-berita yang positif juga, seperti prestasi mahasiswa Indonesia, karya-karya baru dari anak Bangsa, atau informasi seputar destinasi wisata yang layak dicoba saat liburan tiba.

2. Jangan dengan mudah menekan tombol share

Saat kita melihat informasi yang sekiranya menyulut amarah, jangan lantas secepat kliat menekan tombol share. Tarik nafas, hembuskan, cek lagi dulu... Ada baiknya untuk kita mengonfirmasi kebenarannya. Apabila berita tersebut mengandung ujaran kebencian, lebih baik didiamkan saja. Ikut menyebarkan sama saja dengan ikut menaikkan traffic dari pihak penyebar kebencian. Mereka dapet duit, kita cuma dapet stress.

3. Perbanyak literasi ilmu-ilmu yang bermanfaat

Pernah lihat di peringkat berapa literasi masyarakat Indonesia berada? Saya belum update statistik terbaru, tapi yang pasti Indonesia masuk di peringkat terbawah. Padahal jumlah masyarakat Indonesia buwanyak buwanget. Bayangin aja, dengan peringkat literasi yang sangat rendah dan jumlah masyarakat yang banyak, potensi persebaran informasi yang salah sangat rawan terjadi. Sekali share, langsung menyebar dengan begitu mudah, bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya, katanya.

Untuk mencegah terjadinya hal ini, mulai dari diri kita dulu aja. Perbanyak baca buku maupun artikel yang bermanfaat untuk meningkatkan skill dan pengetahuan bisa dengan mudah dilakukan di mana saja. Melalui smartphone, kita bisa mulai subscribe newsletter media-media dengan konten positif dan membangun. 

4. Unfriend, atau bahkan, block provokator di timeline media sosial

Sakit mata nggak sih kalau timeline isinya orang-orang berisik? Nggak ada suara, tapi berisik. Iya, berisik karena dia hanya mikirin pendapatnya sendiri sebagai yang paling benar dan orang lain yang berbeda selalu salah. Apalagi yang dia share hal-hal yang mengandung Black Campaign. Saat diingetin bahwa orang lain berhak berbeda pilihan, eh, malah ngata-ngatain dengan komentar-komentar menyakitkan. Sedih banget rasanya.

Orang-orang seperti ini termasuk toxic people. Nggak perlu lah kita temenan sama dia di dunia maya, apalagi di dunia nyata. Jauhkan diri kita dari pengaruh negatif orang semacam ini. Lebih baik unfriend aja! Putus tali silaturahmi? Bodo amat. Ngapain mertahanin orang-orang yang bikin hidup kita stress? Buang-buang waktu. Let the social media in a peace and good mood always.

5. Nggak tahan lagi dengan biang kerok penyebar kebencian? Laporkan!

Makin keterlaluan? Laporkan aja deh. Apalagi kalo udah menjatuhkan suatu kelompok tertentu yang nggak terbukti melakukan hal-hal yang dibicarakannya di media sosial. Untuk melaporkan si pelaku ke pihak terkait seperti kepolisian emang agak ribet keliatannya. Tapi kalo emang merugikan, jangan ditunda lagi. Kalau terbukti melakukan, bisa diberi hukuman agar jera dan tidak melakukan lagi.

Dari seluruh pemaparan para narasumber, saya merasa masih ada harapan untuk Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Media sosial dan blog masih sangat bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan. Jangan sampe teknologi yang kita punya malah digunakan sebagai penyebaran Black Campaign yang penuh dengan kebencian. Biar kehidupan dunia maya lebih tentram dan pikiran pun lebih rileks saat berinteraksi di media sosial. 

Ready to share the positives? Lemme know on the comment box down below, yak! See you on the next post!

11 Comments

Fakhruddin said…
Memang Media sosial saat ini sudah ndak kondusif. Kata-kata Bapak/ Ibu Guru dulu bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah ternyata jauh berbanding terbalik dengan kenyataan di media sosial Indonesia.
Hanifa said…
Fakhrudin: Generally, nggak cuma Indonesia aja sih. Tapi kalo liat kolom komentar gitu, netijen emang banyak yg ganas... Serem.
Tira Soekardi said…
betul paling gak suka kalau ngeshare berita boog atau share yang gak ada gunanya
Hanifa said…
Mak Tira: Bener Mak. Mendingan berita yang positif-positif aja :))
muthihaura said…
Setuju banget mbak. Aku juga sekarang udah gak mau lagi ngeshare berita yg belum tau kejelasannya. Makasih sharingnya mbak. Salam, muthihauradotcom
Hanifa said…
Kak Muthi: Iyah Kak Mut jangan sampe kita ikutan terprovokasi :')
Rifal Nurkholiq said…
Kalaudi twitter, banyak yang laporin ke Cyber Crime Polri.

Yang mengjhawatirkanku mah, WAG. Di satu sisi privasi, di sisi lain bahaya.

Kalau kakakmau blogwalking:
https://rifalnurkholiq.blogspot.co.id/2018/05/ketemu-sama-kenalan-baru-yang.html?m=1
Hanifa said…
Rifal Nurkholiq: Iyah WAG... Aduh... Apalagi kalo itu WAG didominasi generasi baby boomers. Isinya banyakan grumpy old men yang dikit2 sebar BC terus komen yg negatif2 hhhhh
Untari said…
Capek mengedukasi penyebar hoax. Lsg aja block deh kalo saya. Biar kata temen sma dl. Hehe
Hanifa said…
Untari: Kalo udah kebangetan sih biasanya aku block juga kak. Bikin ga enak pemandangaaan
Dewi M said…
Hoax dan Black Campaign emang ngeselin banget. Bikin nyesal baca. Hehehe