5 Persiapan Saat Freelancer Beralih Menjadi Pekerja Kantoran

Do I need to tell you guys that I finally experiencing work full-time in an office? Yass, I've HAD been working full-time and it was a roller coaster ride and over-whelming enough for me. Beralih kultur kerja dari full-time freelance ke full-time kantoran ternyata cukup bikin kondisi psikis dan fisik mengalami berbagai macam perubahan juga.

I'm not gonna lie, it was hard. Bahkan sampe sekarang pun saya masih "meraba" harus berbuat apa dan kayak gimana. Sebulan pertama bisa dibilang masa-masa yang sulit. Bulan kedua pun nggak kalah berat dan mulai ada "drama" pekerjaan yang lebih intensif. Switching from freelancing to working in office can be THAT over-whelming. Ada beberapa hal yang saya harap bisa saya ketahui JAUH sebelum masuk ke kantor baru dan bekerja di sana.


1. Harus terbiasa dengan berbagai hal yang serba dadakan

Saya nggak tahu apakah ini juga terjadi di kantor-kantor lain. Tapi, dari cerita yang saya dapatkan melalui teman-teman yang sudah lebih lama kerja kantoran, hal-hal yang dadakan ini sudah jadi makanan sehari-hari mereka. Wo yha berarti memang benar begitu adanya, pikir saya.

Sebagai pribadi yang sok perferksionis dan sok profesional, saya jelas "gedabrigan" dan kelimpungan sendiri saat harus handle pekerjaan semacam ini. Ketika freelance dulu, biasanya saya sudah planning timeline kerja sendiri. Saat saya terapkan di kantor, belum tentu hal ini bisa berjalan mulus. Mau nggak mau saya harus pinter improve dan multi-tasking supaya seluruh pekerjaan bisa selesai tepat waktu.

2. Just get everything DONE

Saat masih kerja freelance, saya terbiasa kerja terstruktur dan sempurna. Sempurna dan terstrukturnya sih jelas standar saya yah. Lha wong saya kerja sendiri, sak karepku kan jadinya. Tapi saat kerja kantoran, saya harus buang jauh-jauh standar sempurna kepunyaan itu. Kenapa? Yha karena kesempurnaan yang dianut di kantor adalah milik bos. Pokoknya anak buah manut aja.


3. Biasakan untuk cuek bebek

Akan ada banyak hal yang baru saat harus bekerja kantoran. Omongan orang banyak tuh bikin saya pusing banget nget dan makin overthinking deh jatuhnya. Kalau kamu baru aja keluar dari zona fulltime freelance dan bekerja di kantor dari pagi sampe sore, kamu harus terbiasa untuk cuek bebek dengan omongan-omongan yang sekiranya bikin kamu down kalo dipikir terus-terusan. Yha kalo mau bertahan sih harus dikuat-kuatkan.

4. Banyak lembur untuk belajar adalah kunci

Karyawan baru banyak nglembur? Nggak apa-apa kok. Kalau memang kita ingin cepat-cepat catch up dengan berbagai pekerjaan kantor, yha mau nggak mau memang harus dibelain lembur. Apalagi kalo kita diposisikan untuk jabatan yang lumayan. Udah pasti banyak PR yang harus dikejar. Ini karena karyawan sebelumnya udah melakukan banyak hal dan kita masih pemula. Memang sih kita masih "newbie" tapi perusahaan biasanya ngga mau memaklumi progres kalau ngga keliatan WOW.


5. Sering-sering cari muka, nggak ada salahnya 

Yhaaa lagi-lagi balik lagiii. Kalau memang kamu ingin sekali cepat beradaptasi dengan lingkungan kerja dan bisa lebih cepat nyaman, banyakin cari muka dengan sering laporan ke PaBos ato BuBos tuh ngga ada salahnya kok. Cari tau mereka maunya seperti apa lalu turuti keinginannya. Kalo ada kesulitan, jangan ragu untuk konsultasi. Pasti akan ada jalan, kalo kerjaan itu memang ingin kamu jadikan jodoh.

Dari kelima tips di atas, apakah saya lakukan semua? Well, akan ada cerita sambungan tentang yang pengalaman kerja yang satu ini. Tapi kalo kamu mengalami masa transisi yang sempat saya alami ini, silahkan coba dipraktekan supaya nggak terlalu kaget. Tetep semangat dan sampai jumpa di post berikutnya!



PS: Saya resign 2 minggu setelah postingan ini dipublikasikan karena satu dan lain hal. Tapi, InsyaAllah postingan ini bisa jadi refleksi untuk saya dan temen-temen dengan pengalaman serupa. SEMANGAAAT YHAAA

22 Comments

Nisya Rifiani said…
Iva sekarang beralih ke fulltime office worker-kah???
Semangat say, aku juga pernah ngalamin kayak begini (cuman aku enggak tulis di blog #BloggerPemalas). Aku tunggu cerita selanjutnya ya, kayaknya menarik, apalagi kalau kamu yang tulis...
Sesuatu yang baru memang butuh adaptasi... Selamat belajar dan menyesuaikan diri, semoga lancar ya...
Ririe Khayan said…
Selamat menikmati dunia kerja kantoran, semoga nantinya bisa enjoy. untuk yang poin 5, kalau aku malah kalau bisa jarang-jarang ketemu bubos atau pakbos.
Yoanna Fayza said…
Aseeek jadi wanita karir.. semoga lancar2 ya beib, lama2 bakal nyaman kok, trus nanti pas kepingin balik freelance malah gelagepan lagi. Pengalamanku gitu sih heheee :))
Mini GK said…
Pencitraan mode on dong. ya namanya karyawan 😂
Betah betah ya mbeb
Arry Wastuti said…
Pernah ngerasain jd office worker, daannn.....gak betah :))) Good luck dgn pekerjaan barunya ya, Mbak Iva. Btw, english mu keren mbak. *jempol dua
dewi krisna said…
Aq smp detik ini pngn fulltime.. tp msh mikir mulu.. pngnnya sih jd pengusaha sukses ngono wkwkw #sulapan bim salabim.. sukses dunia akhirat... fulltime trkdg tkt krn waktu terenggut
Juliastri Sn said…
Kalo aku dari bekerja jadi freelancer..
Riana Dewie said…
Aq fulltime pernah, freelance pernah. Hahaha .. Intinya kita hrs ttup kuping kok say , asal kerjaan beres aja sama boss. Aman. 🤓
innaistantina said…
aku pernah nih, dari freelancer terus ngantor lagiii, dan memang butuh penyesuaian luar biasa, apalagi kalo sebelumnya terbiasa kerja settt settt sendiri beralih ke kerja teamwork yang ritmenya beda-beda. Semangattttt Mba!
Ceritamakvee said…
Wihiyyy memang butuh perjuangan untuk berubah ke kantoran sih shay aku dulu juga perjuwangannya yaampon
Wow, saya masih Memeng ke fulltime office worker. Fulltime freelancer aja ga kepegang:(. Semangat ya Mbak, semoga lancar selalu. Kuncinya kalau menurut saya balik ke niat? Buat apa? Cari apa? Buat ibadah kah? Dengan begitu semua kesulitan akan dilewati
nomer lima yang paling susah karena anaknya nggak bisa peres dan cari muka, makanya gue jadi menghindari kerja kantoran wkwkwk
How to Be Mom said…
Kutunggu cerita selanjutnya, siapa tau rezeki saya bisa ngantor eh ngajar lagi.
Semangat yaaaaaa. Biasa fleksible waktu jadi terikat jam kerja lho nanti. Deadline yg biasanya kita yg nentuin, skrg kudu bergantung sama org lain yg ngerjainnya sama2 kita. Semamgaaaatt yaaaaaaa.
Dyah said…
Semoga sukses ya. Kerja kantoran artinya kita nurut ama orang lain. Kalau freelance, kita yang menentukan kerjaan kita. Iya, itu dua dunia yang jauh berbeda.
Adi Pradana said…
Good luck dengan suasana baru. Yg penting bekerja utk ibadah...
Prima Chandra said…
Ternyata dari freelance ke kerja kantoran itu bisa njegleg juga ya. Padahal saya punya niatan yang sebaliknya, dari kerja ikut orang jadi ngerjain orang eh...freelance.

Memang ketika bekerja 'ikut orang' keputusan mutlak ada di tangan pak boss. Tapi, toh demikian halnya dengan kerja sendiri alis freelance. Malah denger-denger kalau freelance, bosnya lebih banyak (a.k.a klien).

Pedekate or cari muka sama boss itu memang penting, supaya kita bisa tahu apa sih mau si boss yang notabene adalah customer kita. Kan kita di-hire untuk memberikan solusi buat customer kita.

😊
Judith Cholya said…
The only good thing about permanent work is permanent salary.
Been there done that.
Jadi aku skrg balik jadi full time content creator aja. Lebih sehat untuk mentalitas ekwkkw
Ghalib said…
Kurang lebih demikian. Perbedaan mendasar dari freelance worker dan office worker yakni di kultur kerjanya.
Kalau kultur kerja waktu freelance dan waktu jadi office worker ternyata masih serupa, pasti lebih mudah menyesuaikan diri dengan kultur waktu di kantor.

Anyway, nice post. Keep it up!
Nadia K. Putri said…
Relate banget mbak Hanifa. Awalnya saya freelancer, kemudian pas gabung kontrak di kantor semua serba dadakan. Mau sakareppe dewe dengan timeline sendiri, mau nggak mau ngikutin tektokan tim. Tapi ini yang kerasa menantang, seru mbak, jadi lebih hidup.