3 Alasan Kuat untuk Lebih Bijak Mengelola Keuangan


Mengelola keuangan adalah sesuatu yang sensitif bagi saya. Dari dulu, setiap ada masalah keuangan, saya sering panik dan jadi lebih mood swing. Nggak santuy lah bawaannya kalau udah berhadapan dengan area yang satu ini. Kenapa? Yha saya realistis aja, nggak ada duit, nggak bisa ngapa-ngapain. Mau belanja aja nggak bisa, apalagi buat nabung.


Dulu, banyak faktor yang bikin saya sering kelimpungan kalau udah menyangkut masalah keuangan. Salah satunya adalah memisahkan uang hasil freelance dan keperluan pribadi. Iya sih, freelance memang menghasilkan. Tapi, sering kali sifat konsumtif saya lebih dominan. Alhasil, pendapatan dari freelance seringnya cuma lewat begitu aja.

Saya sadar betul, tanpa adanya perencanaan yang matang, saya nggak akan bisa merasa “secure” dengan kondisi keuangan yang, bisa dibilang, cukup memprihatinkan. Not that I have too much debts or something, tapi seringnya saya nggak menyadari bahwa ada hal lain yang lebih prioritas ketimbang membelanjakannya begitu aja.

Kesadaran Akan Pentinganya Perencanaan Keuangan

Beruntung banget, sekarang akses informasi mengenai perencanaan keuangan udah cukup banyak. Saya pun merasa lebih aware untuk memahaminya lebih jauh agar nantinya kondisi keuangan bisa lebih sehat. Apalagi sudah memasuki umur hampir kepala 3. Malu dong kalau kebiasaan buruk dalam pengeloaan keuangan masih terus bertahan.

Kalau kita proaktif cari tahu, ada banyak sumber belajar yang bisa dimanfaatkan untuk membantu kita mengelola keuangan lebih baik. Kalau saya sih biasanya ngikutin saran dari pakarnya langsung. Salah satu sosok yang saya pantengin saran-sarannya terkait masalah keuangan adalah Mbak Prita Ghozie.

Mbak Prita Ghozie dalam Program #IbuBerbagiBijak

Makanya, saat ada event bersama VISA tanggal 3 September 2019 lalu, saya bener-bener excited buat dateng. Kenapa? Karena Mbak Prita yang jadi pembicaranya! Aaaaakkkkk *fangirl scream inside* Nggak nyangka bangeeettt bisa berkesempatan ketemu beliau yang setiap petuahnya saya amini dan sebisa mungkin saya coba terapin.

Udah kayak sekte nih kesannya. Tapi beneraaaan saya tuh se-ngefans itu sama beliau. Banyak hal yang bagi saya cukup realistis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi perkara keuangan bukan sesuatu yang gampang. Jangan sampe terlena dan merasa udah aman saat kita belum melakukan financial check-up.

Bijak dalam Mengelola Keuangan Sejak Dini

Wahai teman-temanku, baik yang sudah menikah atau pun masih lajang, siapa yang merasa keuangannya udah aman dan siap menghadapi segala macam kemungkinan tak terduga suatu saat nanti? Kemungkinan seperti tiba-tiba dipecat dan nggak ada penghasilan masuk sama sekali, atau bisnis macet di tengah jalan dan terpaksa harus berhenti operasionalnya?

Kalau udah merasa aman, bagus… Kalau belum, sini-sini saya kasih tahu. Mau saya kasih tahu, nggak?

Saya juga belum aman. Tenang aja, ada temennya kok.

Maka dari itu, saya mau berbagi sedikit tips nih. Melalui event Ibu Berbagi Bijak yang diinisasi oleh VISA serta didukung oleh OJK dan Bank Indonesia, saya bersama teman-teman dari Kumpulan Emak Blogger belajar bersama mengenai pentingnya sikap bijak dalam mengelola keuangan. 

Program #IbuBerbagiBijak dari VISA

Program Visa Ibu Berbagi Bijak

Buat yang belum tahu, program #IbuBerbagaiBijak ini adalah salah satu kegiatan yang rutin diadakan oleh Visa dari tahun ke tahun. Bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, program ini udah memasuki tahun ketiganya.

Tahun ini, Yogyakarta menjadi salah satu destinasi penyelenggaraan workshop yang menggandeng para pengusaha perempuan di bawah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Pada event ini, ada beberapa “orang penting” yang turut hadir memberikan sambutan dan materi, seperti Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Riko Abdurrahman.



Sambutan dari berbagai perwakilan instansi dalam program #IbuBerbagiBijak

Selain itu, ada juga Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank, Pasar Modal, dan Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Noor Hafid, Wakil Ketua I Dekranasda Kota Yogyakarta Rihari Wulandari, serta Financial Educator Prita Ghozie.

Workshop yang diadakan nggak hanya mengedukasi para peserta seputar pengetahuan basic tentang manajemen keuangan aja, tapi juga agar pelaku usaha perempuan cerdas dalam mengakses produk/layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kemampuannya.

Mengapa Harus Lebih Bijak dalam Mengelola Keuangan?

Melalui program #IbuBerbagiBijak, apa aja ilmu dasar terkait pengelolaan keuangan yang dibagikan? Mengapa para pengusaha, terutama pengusaha perempuan, harus lebih bijak dalam mengelola keuangan? Berikut beberapa alasannya.

Lebih Baik dalam Memahami Modal dan Kebutuhan Dasar

Keuangan di ranah personal dan usaha adalah dua hal yang sangat berbeda. NGGAK BOLEH hukumnya untuk mencampur adukkan keduanya. Kenapa? Karena pada manajemen keuangan usaha terdapat modal dan kebutuhan dasar yang berbeda dengan keuangan pribadi.

Menelaah kata “modal”, biasanya kita hanya berpikir tentang uang yang digunakan untuk membangun sebuah usaha. Betul, semuanya memang butuh uang. Tetapi, apakah hanya uang saja yang menjadi elemen penting dalam membangun sebuah usaha? Nggak, kisanak. Ada 3 jenis modal yang perlu kita pahami terlebih dulu di awal membangun sebuah usaha

1. Modal Investasi Awal, seperti properti, fasilitas pendukung, dan pelatihan tenaga kerja
2. Modal Kerja Operasional, seperti barang dagangan dan barang pendukung
3. Biaya Tetap, seperti biaya listrik, telepon, internet, biaya pemasaran, dan biaya pegawai.

Kalau saya freelance sebagai blogger, apakah masih perlu 3 jenis modal tersebut. YAIYALAH NYAIIII. Walaupun nggak ada pegawai, kita kan masih perlu modal investasi awal seperti laptop, modal kerja operasional seperti produk jasa yang ditawarkan ke klien, dan biaya tetap seperti listrik, internet, dan meeting sama klien di kafe yang wangun.

Mbak Prita menjelaskan materi modal dan kebutuhan dasar usaha pada program #IbuBerbagiBijak

Terhindar dari Sikap “Feeling Analysis”

Nggak hanya modal yang harus kita perhatikan. Ada banyak elemen lain dalam manajemen keuangan yang perlu dikelola secara bijak. Sehingga, analisa keuangan atau Financial Analysis pun harus ikut serta supaya keuangan selalu terpantau, apakah sedang profit, loss, atau break even.

Namun kenyataannya, banyak di antara kita yang masih belum melakukan financial analysis dan masih mengandalkan feeling analysis. Jujur, saya pun masih sering melakukannya. Ketika ada uang di tabungan, saya masih merasa aman. Ada kalanya saya langsung belanjain uang invoice yang cair tanpa menghitung untung rugi dari pendapat saya sebagai freelance.

Merasa familiar? Kalau iya, langkah pertama yang harus diambil adalah financial check up. Sudah sehat belum keuangan kita? Tahu sehat atau nggak tuh dari mana? Cek dulu melalui poin-poin di tabel berikut.


Memahami Skala Prioritas Pengelolaan Keuangan

Kalau udah melakukan analisa keuangan melalui financial check up, last but not least, pahami sebaik mungkin skala prioritas pengelolaan keuangan. Melalui materi yang disampaikan, Mbak Prita memberikan highlight 5 elemen penting yang perlu kita jadikan prioritas dalam pengeloaan keuangan.

Lima elemen ini dirangkum dalam ZAPFIN, yang meliputi Zakat, Assurance, Present consumption, Future spending, dan INvestment.

Sebagai seorang muslim, zakat merupakan keutamaan yang tidak boleh saya lewatkan. Walau begitu, zakat tidak terbatas hanya untuk para muslim saja. Hakikatnya, memberi sebagian harta kita kepada yang membutuhkan adalah suatu amal yang bisa membuat kita lebih bersyukur dengan apa yang sudah dipunya.

Berikutnya adalah assurance, yaitu segala hal terkait asuransi maupun dana darurat. Saat kita menerima upah, alangkah baiknya untuk menyisihkan uang yang didapat untuk dana darurat yang berjumlah setidaknya 3-12 kali pengeluaran bulanan. 

Kita bisa memanfaatkan instrumen seperti giro apabila dana sudah terkumpul. Giro adalah surat perintah nasabah untuk memindahbukukan sejumlah uang kepada orang lain lewat selembar cek. Selanjutnya, baru deh dilanjut dengan present consumption.


Present consumption ini bisa dibilang kebutuhan dasar sehari-hari yang akan selalu ada, seperti biaya sewa, listrik, internet, uang makan, dan lain-lain. Setelah teralokasi dengan baik, selanjutnya lakukan future spending dan investment.

Future spending yang dimaksud adalah menabung. Perbedaannya dengan investment atau investasi ada pada objek yang jadi tujuannya. Saat menabung dan berinvestasi, kita tahu tujuannya untuk apa. Tujuannya mungkin sama, untuk menikah atau biaya pendidikan anak. Tetapi perbedaannya ada pada detail tujuannya.

Jika kita menabung untuk menikah, kita sudah berencana akan menikah dengan WO seperti apa, gedung yang mana, hingga berapa jumlah undangan yang akan disebar. Kalau biaya pendidikan, yha mau sekolah atau kuliah di mana atau mau sampe jenjang apa. Sedangkan investasi hanya sebatas untuk menikah atau dana pendidikan saja.


Dari penjelasan di atas, langkah mana yang udah kamu lakukan? Kalau memang masih ada yang terlewat, nggak ada kata terlambat kok untuk mulai menganalisa pengelolaan keuangan kita. Selama kita aware dan rutin melakukan financial check up, InsyaAllah keuangan bakal amaaaan. Semoga kita jadi lebih bijak dalam mengelola keuangan, ya!

24 Comments

Atisatya Arifin said…
Aku juga sempat ikutan workshop Ibu Bijak nih kak Hanifa, dan emang ngebantu banget untuk mengecek sejauh mana kesehatan finansial keluarga. Cuma saat ini aku masih rada kesulitan untuk menyiapkan dana darurat. Tapi alhamdulillah no hutang.
tantiamelia.com said…
iya ini bisa membantu mengatur keuangan keluarga yaa Hanifa,asal.... pemasukannya juga besaaarrrrr
Nathalia DP said…
Kalau saya, yang belum itu investasi, huhu... Mudah2an 2020 bisa terlaksana...
Yeni Sovia said…
Huhuhu mba baca ini saya ngerasa ditmpar. Karena saya masih suka pake perasaan bahwa uang keluarga aman. Tapi tahu-tahu pas tanggal tua keteteran deh. Makasih ya udah diingetin aplagi soal jngan satukan uang krjaan ama pribadi. Soalnya uang hsil ngeblog lbh bnyak dijajanin n disatuin ama uang pribadi. Jdi hasilnya kurang keliatan
Efi Fitriyyah said…
Akupun masi pake feeling. Ada uang masuk ke rekening maen belanja aja, dan ketar ektir pas menipis hahaha. Cara paparan Prita Gozhie ini asik. Walau serasa ketabok karena banyak yang kesentil tapi malah bikin ketawa
Aku paling demen nih kalau belajar pengelolaan keuangan sama mbak Prita Gozhie, berasa ketampar. Dan aku semenjak ikutan sharing sama dia jadi benar-benar membenahi keuangan keluarga. Karena banyak post-post yang ternyata persentasenya harus lebih besar.
Siti Nurjanah said…
Bijak dalam menggunakan uang merupakan hal paling mendasar dari pengelolaan keuangan agar terfungsikan dengan baik sehingga lebih mengutamakan hal yang primer dan mengendalikan pengeluaran lainnya
Armita said…
So far ngerasa aman sih dengan keuangan yang ada sekarang, sebenarnya pengen nambah lagi karena masih ada cita-cita yang belum tercapai... Penasaran dengan Prita pengen ketemu langsung biar bisa dengerin paparannya dengan lebih jelas
Moga suatu hari bisa ikutan acara perencanaan keuangan bareng mba Prita Gozhie, biar makin melek tentang perencanaan keuangan.
Saya pun suka gatel pengen belanja waktu liat saldo di tabungan agak banyakan dikit. Harusnya langsung diamankan di tabungan
Selalu suka sama ulasan dan penyampaian Prita Gozhie..laf laf
Aku sebenarnya agak sembrono soal keuangan ini. Syukur dapat pasangan yang lebih teliti hihihi. Suamiku orang akunting, ide pengelolaan dengan bijak di rumah banyak dari suami. Dan memang penting melakukan financial checking biar enggak babalas saja apa yang kita dapatkan
Eri Udiyawati said…
Saya banget nih yang masih suka mengandalkan feeling analysis. "Ah, gpp jajan pakai yang rekening ini, yang satu kan masih ada," seringnya berucap begitu. Terus pas akhir bulan meringis dong saya. Yah, kok duit saya tinggal dikit? atau malah bablas :( :(

Mengelola keuangan memang penting banget buat kita. Saya lagi belajar juga nih. Mencoba untuk memakai dana/pemasukan maksimal 50% dari gaji untuk seluruh kebutuhan hidup. Semoga bulan Februari ini saya bisa. Karena bulan Januari saya gagal. Ya, karena itu, feeling analysis.
Dapur Ngebut said…
wah makasi buat sharingnya. aku masih belajar nih buat bisa menata keuangan dengan bijak :)
Mbak Prita ini slah satu panutan untuk urusan pengelolaan keuangan. orangnya to the point banget ya, tapi aku suka karena ilmunya sangat bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari kita.
Kalo baca2 tentang pengelolaan finansial, suka ngerasa dijewer. Wkwkwk. Masih banyak kesalahan di sana-sini. kalo teori mah gampang ya, sekian harus buat ini, sekian buat itu. Pas ngejalanin. rasa godaannya beradddd bgt. Haha
Ainhy Edelweiss said…
Sebagai ibu rumah tangga, memang kt harus bisa mengelola keuangan keluarga. Aq paling suka event kyk gini bisa nambah insight, mudah2an nanti jg di selenggarakan di sini
Artha Amalia said…
jd itung2an ih. cicilan suami tinggal berapa ya. apa udah di bawah 30% wkwkwk. sebab beliau yg cari uang, saya yg bagi2
Utie Adnu said…
Bener bnget mba harus ternyata Bijak dalam Mengelola Keuangan Sejak Dini biar bisa bener2 teratur cash flow kluarga ya
Aswinda Utari said…
Belakangan keluarga kami sdg ketagihan investasi. Sampai dana darurat dan biaya pokok bulanan pun dipertaruhkan. Wkwk. Kadang berpikir apakah ini sehat? Huft..
Ria Rochma said…
Iya ya mbak, 'uang gaji' sbg penulis blog juga serinfnya lewat gitu ajah. Bahaya juga sehx soalnya nabungku juga cuma dapat dikit
Lina W. Sasmita said…
Selalu suka jika membahas masalah pengelolaan keuangan yang bijak. Jadi banyak belajar dan mencerna bagaimana sebenarnya alokasi yang benar untuk setiap pengeluaran dan pemasukan.
lendyagasshi said…
Kak Prita memang membawakan tema keuangan dengan cara yang mudah dipahami dan FUN learning banget yaa..
Aku lihat IG Storynya temen-temen blogger yang belajar, jadi ikutan paham dikit-dikit.
Apalagi dituliskan di blog seperti ini.
Haturnuhun kaka...sudah berbagi.
Saya ikut event ini juga. Dan terbukti keuangan saya belum sehat..hihi...masih campur-campur pembukuannya juga. Pokoknya tahun 2020 tertib pembukuan..hihi...
Skala prioritas dalam membelanjakan uang memang penting nih, harus disadari oleh kaum perempuan yang biasanya hobi kalap dalam berbelanja. Harus ingat dengan kebutuhan dasar lainnya yang lebih mendesak.