3/22/17

Tingkatkan Pemahaman Alergi Kulit dengan Mengetahui 4 Gejala dan Penyebabnya


Adakah di antara pembaca blog saya yang punya masalah dengan kulitnya? Masalah kulit semacam kulit sensitif dan cenderung berhati-hati dengan produk-produk tertentu?

Tenang, kamu nggak sendiri. Saya juga salah satu dari banyak orang yang mendapatkan "anugerah" kulit sensitif. Kenapa saya sebut sebagai "anugerah" dan bukan sebaliknya, semacam musibah? Hmmm, mungkin karena saya sedang mencoba hidup positif dan berusaha melihat keniscayaan dari sebuah kekurangan kalik ya? Tapi teteup aja kondisi kulit gini kadang bikin bete.

http://www.gifimagesdownload.com/wp-content/uploads/2016/02/annoyed-gif-220.gif
Euurrrgh

Saya punya kulit sensitif di area tangan dan kaki. Paling nggak tahan saat cuaca panas banget dan cenderung kering. Kondisi yang semacam itu bikin kulit saya kering dan "kapalan" semacam pecah-pecah gitu. Ini berlangsung sejak saya masih balita sampai sekarang. Bikin nggak pede foto kaki telanjang dan repot banget pas harus presensi pakai sidik jari.

Why, you ask? Mine can't be detected! Parah banget kan sampe sidik jari saya nggak bisa terdeteksi. Pas ada kesempatan buat tes minat dan bakat lewat sidik jari secara gratis, saya terpaksa melewatkannya karena sidik jari saya susah banget buat terdeteksi. RUGI BANGET SUMPAH. KZL.

Sebagai orang yang punya kulit sensitif, just admit it, kita akan lebih rentan terkena alergi kulit, sehingga pemahaman alergi jenis ini perlu dilakukan. Gejalanya akan muncul ketika terpapar dengan alergi setelah sekian kali, sehingga nggak langsung terjadi. 

Punya kulit sensitif biasanya sering bikin saya frustasi dengan karakter kulitnya sebab perlu selektif dalam memilih baju, kosmetik, dan lain sebagainya. Bisa jadi allergen yang dimiliki berasal dari barang-barang dan produk yang selama ini rutin digunakan.

Gejala dan Penyebab Alergi Kulit

Alergi kulit memang kerap dialami oleh kita yang kebetulan kulitnya sensitif sehingga mudah sekali terganggu dengan benda dan zat asing, apalagi zat kimia. Apabila memiliki alergi jenis ini maka setelah terpapar dengan allergen biasanya akan menunjukan gejala berikut:

•    Kulit berubah warna menjadi kemerahan dan tentunya abnormal,
•    Ruam akan muncul di beberapa bagian kulit terutama yang terpapar dengan allergen,
•    Muncul rasa gatal dan kadang disertai rasa panas dan juga perih,
•    Kulit yang terpapar allergen akan membengkak bahkan bisa menjalar ke bagian lainnya. 
 
Gejala alergi yang kita alami

Mengetahui dengan baik gejala apa saja yang ditunjukkan oleh alergi kulit akan sangat membantu kita buat nentuin penanganan yang tepat. Namun, ada baiknya kita amati terlebih dulu zat atau benda apa yang digunakan sebelum gejala alergi tersebut muncul. Besar kemungkinan benda atau zat tersebutlah yang menjadi allergen sehingga baiknya tidak digunakan atau bersentuhan lagi dengannya. Hal ini wajib kita lakukan sebab jika kembali terpapar allergen maka reaksi yang muncul biasanya akan lebih parah!

https://68.media.tumblr.com/2659d95c18f9c2cde5d5d13d196bd115/tumblr_o1j5puJrql1smqfiko1_500.gif
Oh.. no...

Nah, supaya kita terbantu menghindari atau mencegah alergi jenis ini, ada baiknya kenali penyebabnya apa saja kemudian menghindarinya. Penyebab dari alergi kulit sendiri antara lain:

1. Penggunaan produk kosmetik dan pembersih wajah yang mengandung zat kimia,
2. Memakai obat oles misal balsem, salep antigatal, dan sejenisnya,
3. Kontak dengan produk pembersih yang mengandung desinfektan seperti pencuci piring dan pembersih lantai,
4. Penggunaan aksesoris berbahan logam bisa bros, jepit rambut, kalung, anting, dan lain-lain.

Pemahaman tentang jenis alergi tentu perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah alergi yang dimiliki, termasuk alergi kulit. Kalau sudah paham tentang jenisnya, jangan lupa untuk tetap dikonsultasikan ke dokter. Dengan begitu, penanganan terhadap alergi yang kita alami bisa lebih cepat. Risih juga kan kalau harus berlama-lama dengan alergi?

Nah, setelah sembuh, sebaiknya mulai hindari produk-produk yang memungkinkan kita terkena alergi kembali. Tindakan preventif selalu lebih baik daripada harus mengobati. Yuk, senantiasa jaga kesehatan, termasuk kesehatan kulit!

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang mengalami alergi kulit yaaa. See you on the next post!

3/19/17

5 Blogging Tips yang Ingin Saya Ketahui Sejak Awal Ngeblog

Hey, everyone!

Akhirnya saya kembali menulis lagi suatu topik yang udah beberapa bulan nggak saya bahas. Topik blogging udah agak lama nggak saya bahas karena saya bingung. Mau nulis tentang blogging, tapi nulis apa ya? Akhirnya kali ini, saya kembali dengan tulisan seputar blogging berdasarkan pengalaman saya. Apa itu?


Kelihatan ya dari judulnya? Hihihi. Saya mau bahas tentang hal-hal yang saya harap bisa saya tahu dan pahami saat awal mulai ngeblog. Terus terang saya agak nyesel nggak tahu tentang 5 hal ini di awal ngeblog dulu. Padahal kalau dihitung, saya mengelola blog ini sudah sekitar 7 tahun. Namun karena saya yang nggak update soal perkembangan blogging, saya jadi merasa tertinggal.

Apa saja kelima hal tersebut?

1. Menentukan judul dan alamat blog yang tepat

Apa judul dan alamat blogmu saat pertama mulai ngeblog dulu? Punya saya alay banget. Kalau nggak salah alamatnya destroy-inside.blogspot.com. Anjay sok emo banget. Yah, maklumin yaaa namanya juga baru kenal blog, masih suka galau-galau nggak jelas pas SMA dulu. 

https://media1.popsugar-assets.com/files/thumbor/t5zXs8fymbU_huocxPCLSgM9Ipw/fit-in/1024x1024/filters:format_auto-!!-:strip_icc-!!-/2016/07/29/033/n/1922283/c7991000158863ca_serena-sad/i/I-Just-Realized-How-Freaking-Mad-I-Am-You-Face.gif
Padahal sampe sekarang juga masih gitu kadang

Saat saya mulai serius ngeblog sekitar awal tahun lalu, saya mulai mempertimbangkan judul dan alamat blog saya. Dari segi judul sih menurut saya udah agak oke. A Girl Thoughts. Murni kepikiran begini karena blog ini kebanyakan isinya tentang pemikiran-pemikiran saya. Kalau kamu perhatikan, saya sering posting di jam-jam orang udah pada tidur. Biasa... midnight contemplation gitu deh. Jadilah saya putuskan untuk memakai "A Girl Thoughts" sebagai judul blog ini

2. Menetapkan niche dari blog

Ini nih yang bahkan sampe sekarang pun saya masih suka bingung. Blog saya nih niche-nya apa ya kira-kira? Dulu, menurut saya blog pribadi itu ngga perlu niche tertentu karena blog pribadi cenderung bebas mau bahas apa aja. Nah, pas saya mau bawa blog ini ke level selanjutnya, banyak pakar blog yang menyarankan untuk segera menetapkan niche.


Waduh, udah kadung gado-gado bahasan di blog ini.

Lalu suatu hari, saya baca artikel dari seorang blogger yang membahas tentang niche or no-niche. Saya lupa siapa yang nulis karena dia blogger luar dan blog postnya lupa saya bookmark. Intinya di blog post tersebut dia bilang kalau nggak apa-apa buat yang blognya udah terlanjur gado-gado ASAL di blog tersebut kita beri kategori yang jelas. Usahakan semua tulisan di blog kita kerucutkan lagi tipenya ke kategori-kategori tersebut.

Akhirnya saya coba mengerucutkan kategori tulisan di blog saya. Hasilnya, ada 5 kategori yang tercipta di blog ini: Self Development, Social, Entertainment, Beauty, dan Blogging. Awalnya mau saya tambahkan "Personal". Setelah saya pikir-pikir, kayanya kategori Personal terlalu luas deh. Lha blog ini aja udah blog "personal" kok. Oke deh, 5 kategori itu saja.

Kalau kamu, blogger dengan niche tertentu atau blogger gado-gado? 😂

3. Bergabung dengan komunitas blogger

Saya nyesel BANGET nih nggak tahu pentingnya komunitas blogger sejak dulu. HUHUHU. Kenapa nyesel? Karena nggak siapa yang bisa diajak berbagi seputar blogging. Nggak banyak temen saya yang ngeblog secara serius. Untungnya saya berinisiatif untuk mulai cari komunitas yang bisa membantu saya memperluas networking seputar blogging.


Saya baru gabung komunitas blogger sejak tahun 2016. Komunitas tempat saya bergabung sebagai blogger pertama kali adalah "Blogger Perempuan". Dari situ, saya mulai bergabung dengan komunitas-komunitas lain, termasuk komunitas blogger di kota saya, "Komunitas Blogger Jogja". Dari komunitas-komunitas blogger tersebut, saya mendapatkan banyak teman sesama blogger, sering BW, dan bahkan kopdar saat ada event-event blogger yang diselenggarakan di kota saya.


https://az616578.vo.msecnd.net/files/2016/10/10/6361166330962040371063520403_serenaa.gif  
Seneng banget deh rasanya ketemu mereka!

4. Memiliki template yang responsif

Di beberapa tulisan seputar blogging, saya sering banget menyebutkan tentang SEO. Bukan tentang bahasan SEOnya secara rinci, tapi tentang pentingnya memahami SEO bagi para blogger. Salah satu hal yang paling saya sesalkan karena tidak paham dari awal adalah mengenai template yang responsif.

Template saya dulu beraaaaat banget. Mungkin sampai sekarang pun masih lumayan berat karena warnanya yang tidak belum dominan putih. Foto-foto yang saya sisipkan pun masih banyak yang resolusinya terlalu besar dan bikin loading jadi lebih lama. Namun saya mulai sedikit demi sedikit memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya.

5. Menggunakan domain untuk blog pribadi

Akhir tahun lalu, saya baru mulai menggunakan domain. Sebenarnya sejak dulu saya sudah pengen pakai domain sendiri tapi kok rasanya eman-eman duit terus. Setelah tahu manfaat dari penggunaan domain pribadi, akhirnya saya mantapkan untuk mulai menggunakannya. Alhamdulillah, dari situ manfaatnya mulai terasa sedikit demi sedikit, seperti meningkatnya pengunjung blog dan job yang saya terima.

https://m.popkey.co/c94146/Ej0eD.gif 
Alhamdulillah~

Melalui kelima poin penyesalan tersebut, saya makin sering belajar mengenai dunia blogging. Beberapa sudah saya coba share di blog dan yang lainnya masih saya praktekan secara bertahap. Untuk teman-teman yang juga masih baru dengan dunia blogging, jangan ragu-ragu untuk berkunjung dan bertanya kepada yang sudah cukup mahir ngeblog. Saya sendiri banyak belajar dari Mbak Carolina Ratri yang rutin update ilmu-ilmu ngeblog secara mendalam.

Kalau dari pengalaman ngeblogmu, adakah pengalaman yang serupa dengan bahasan di sini? Silahkan share dan jangan lupa kritik dan saranmu di kolom komentar ya! See you on the next post!

3/16/17

Review Garnier Micellar Cleansing Water


"Apa perasaan yang paling melegakan untukmu?"

Jawaban dari pertanyaan di atas pasti bermacam-macam. Bisa jadi perasaan paling melegakan adalah saat kamu berhasil bayar hutang, atau mungkin setelah invoice yang lama ditunggu-tunggu akhirnya cair.

Well, freelancer lyfe.

Untuk saya pribadi, perasaan yang paling melegakan adalah setelah ngebersihin wajah dari makeup yang nempel seharian, dari pagi sampe malem. Rasanya bener-bener kayak abis ngelepas beban yang udah seharian dibawa.

Itu kenapa saya nggak pernah bosen buat cari pembersih wajah yang ampuh ngebersihin wajah. Sebelumnya, susah banget buat ngebersihin wajah dari foundation dan eye-makeup, terutama waterproof mascara. Sering kali masih ada makeup yang tersisa dan terasa risih di wajah saat bangun tidur. Bikin KZL, kan?

https://media.giphy.com/media/yDcOHpAe0XKi4/giphy.gif

Makanya, saya seneng banget saat tahu Garnier Micellar Cleansing Water udah available di Indonesia. Saya belum sempet beli di toko kosmetik langsung, tapi Alhamdulillah saya dapet juga sebagai hadiah ulang tahun. Rasanya excited banget bisa dapet produk ini! So, I thought maybe this product deserve another short review from me.

Kalau dari segi packaging, no complain. Isinya 125ml, praktis banget buat dibawa kemana-mana, travel friendly dan sama sekali nggak ribet pas nuangin ke kapas. Plus, it's pink! My all time favorite colour  😍

Garnier Micellar Cleansing Water

Dari segi formula, KATANYA formula dari Garnier Micellar Cleansing Water mirip sama kepunyaan Bioderma, tapi mengandung lebih sedikit bahan. Walaupun begitu, hasilnya hampir sama bagusnya kayak Bioderma. Micellar water dari Garnier ini bekerja dengan baik dalam menghapus makeup.


Formula dan bahan-bahan dari Garnier Micellar Cleansing Wate

Bagian yang saya suka dari Garnier Micellar Cleansing Water adalah produk ini sama sekali nggak berbau, cocok untuk semua tipe kulit wajah, bahkan untuk kulit sensitif sekalipun. Selain itu, micellar water ini aman untuk diaplikasikan nggak cuma di wajah aja, tapi juga di mata dan bibir.

Aman untuk wajah, mata, dan bibir

Dalam pengaplikasiannya, Garnier Micellar Cleansing Water tidak perlu digosok terlalu keras di area yang ingin kita bersihkan. Setelah dituang ke kapas, usapkan lembut di mata, bibir, serta seluruh area wajah

Hasilnya, nggak 100% hilang sih, terutama untuk waterproof mascara dan lip cream. Mungkin saya harus cobain makeup remover-nya sekalian biar bisa dapet hasil yang maksimal. But, no worry, untuk cewek-cewek yang merasa males buat cuci wajah di malam hari karena capeeek banget sepulang beraktifitas, this product can be the right choice for you.

Sebelum penggunaan Garnier Micellar Cleansing Water
(maskara, pensil alis, eyeliner, eyshadow, eyeshadow base, 
concealer, foundation, lip cream, lipstick, blush)


 Hasil dari  Garnier Micellar Cleansing Water
(mascara, lip cream, dan lipstick nggak hilang sepenuhnya)

Dari segi harga, produk ini tergolong sangat sangat sangat terjangkau harganya. Hanya dengan mengeluarkan uang sekitar Rp 30.000,- kamu udah bisa dapet Garnier Micellar Cleansing Water di toko-toko kosmetik atau online store. Ini kayanya yang bikin produk ini sering out of stock dimana-mana.

Pengakuan dari yang ngasih kado ini buat saya sih gitu. Saya juga paham karena saya udah cari sejak kapan hari, eh ternyata di minimarket waralaba deket rumah malah ada :))

Garnier Micellar Cleansing Water

9 out of 10
Around IDR 30.000
You can buy online shop or offline store

Garnier Indonesia's Account
Alright folks, that's my short review on Garnier Micellar Cleansing Water. Semoga bisa membantu kalian yang butuh informasi seputar produk micellar water yang keren ini ya! See you on the next post!

3/14/17

That Moment When I Stop Comparing Myself to Others


Hey everyone!

It's been a while since I wrote my post in English. It was about... months ago? I can't remember. But now, I decide to write this post in English. Why, you ask? The reason is because I need responses as many as possible in various point of views. I thought writing in English can help my voice to be heard internationally.

This time, I'm gonna tell you my journey on finding who I really am. It's the journey and process of not comparing myself anymore to other people.



I wrote this several times on my blog. But yeah, I will write this again. This year, I turned to be a 25-year-old gal in February. Time flies so fast, huh? Yeah, it does. But I feel like my time growing up stopped when I was 22 years old. After that, all my dreams seem crashed. It's only because of one thing: I haven't graduated.

Year by year, I always set this goal of graduating and get my bachelor degree. I also pinned "losing weight" as my goal like every-single-damn-year. 

But, what happened? Nothing. Nothing happened. I assume that I'll always be like this. A lazy fatty girl that don't have any bachelor degree which gonna take her life to the next level.

I begin comparing myself to others


This shitty thoughts don't just stop like that. At this age, many of my friends already graduated from college and got some jobs. Some of them are already married and have babies. But among them, who I envy most are those friends who finally lose their weight, have this beautiful feed on Instagram, and upload those photos when they study abroad.

While me, you can see what am I doing here, right? I'm complaining about my life. I burn out of jealousy and blame myself for not being what I dream about when I'm in my 25.



What am I gonna do? Stop being optimistic and wait for some miracles that about to happen soon after I do nothing about my life? I wish. But, no. Hell no I can. There's no way that I can just lay down and waking up with this what I think as beautiful body, plus a package of my bachelor degree with a "happy graduation" wraps it prettily?

Ain't never gonna happen.

That moment when I just... stop.


Then I just stop. I stop... and think. Why do I feel like this? It hurts, and for some reasons, it destroys me from the inside. I can stop right now or this toxic thoughts of comparing myself to others will make everything even worse.


Then I feel something. Something that I never felt before. This time, I'm sure, it's a good thing to feel this kind of feeling.

1. I start to wear the clothes that represent me


Before, I considered too many things before put my clothes on. I often asked and said something myself like "Do I look okay with this?", "This hijab didn't cover my big arms", "I look bigger with this outer. I should change". It was... exhausting. So I stop wearing something that I'm not comfortable with just to "cover" my flaws. This body represent me so I live with it and take care of it on my way.

2. I work on what I really love

"You should've study natural science. You can earn much more money"
"Why do you write? It's just words. No one read anyway. It's useless"
"Language? There are thousands of translation application. Why do you even bother learning language?"

You know what? I don't give a shit anymore. I love learning languages. It's fun, it gives me opportunity to learn more things other than "just" language. I can connect with people globally, having an international friendship, and it's easier for me to understand cultures all over the world. 

I love writing. I can share thoughts and stories through my write. A friend from Paris told me on facebook messanger that my blog post titled "24" helped her to be more confidence and not giving up on her dreams. It was so touching. I never knew that I could be able to change perspective of people by writing.

The best part, they're happy with my write... and that's my happiness too.

3. I don't mind what other people might say about me


Before or even up until now people still tell me that my decisions are wrong. I have to be like this and like that. Like I said on point 2, their words don't bother me that much now. They criticize my choice of healthy life, what I should wear, said that I'm not pretty enough, I look older than my actual age, even I can't get a boyfriend. Meh. I'm tired with all those judgements. Bye.

4. I socialize and network better

I usually felt underestimate with myself JUST BECAUSE I'm not like other people. I mean, my body size, sometimes it bothers me. But now, I feel like it's just what's in my head. I judged myself too much and I couldn't go for challenges because I felt ashamed of myself. So I push myself to go forward, take those challenges, meet new people, and try to connect more. This gets me to the next level of networking.

5. I'm happy just to be me

In which level do you love yourself? If you ask me, well, it's above 70%. I love me and I care about myself. That's the only way I can be happy with someone else too. If I can't love myself enough, how do I expect someone else can give me happiness? People don't give that kind of thing to us. It's us who feel grateful for what they do for us. Life seems way easier to get through when we're happy with ourselves.


Also read: It's Alright

And that's all my thoughts about getting into the real me. I may not be able to totally not comparing myself to other. But as the time goes by,  I will try. I will always try to be better and leave all those bad thoughts behind. Let's moving forward and be the real us.

See you on the next post!

3/9/17

5 Hal Receh yang Jadi Problematika Generasi Milenial di Dunia Maya (Part 2)

Happy mid-week everybody!

Buat kamu yang udah sering baca blogku, masih inget nggak postinganku bulan lalu yang membahas tentang 5 hal receh yang jadi problematika generasi milenial di dunia maya? Reaksi para pembaca terhadap postingan itu bermacam-macam. Kebanyakan udah merasakan sendiri masalah-masalah sepele yang biasanya kejadian di awal perkenalan dengan dunia media sosial. Bahkan walaupun udah lama srawungan di media sosial, ada aja masalah yang masih kejadian.

Nah, kali ini saya akan bahas 5 problematika lain yang sering dialami generasi milenial saat ini. To be remembered, postingan ini murni pendapat saya. Semua poin yang saya jabarkan murni dari kacamata pengalaman saya dan merupakan refleksi dari apa yang terjadi pada saya.



Apa aja sih 5 problematika generasi milenial di dunia maya yang lain?

1. Rela melakukan apa saja demi foto yang instragramable

Siapa yang belum pernah kayak gini? Sini tak tepuk tanganin dulu *slow clap*

Kalau kamu belum pernah melakukan hal ini, saya salut. Artinya kamu termasuk orang yang tahu diri dan anti-mainstream. Sejak maraknya media sosial, banyak orang yang pergi ke tempat-tempat "hits" untuk sekedar update foto/check-in tanpa benar-benar menikmati nuansa dan atmosfir di sana. Mereka rela melakukan apa aja demi foto yang instagramable. Ada yang rela berdesak-desakan, ada juga yang sampe nggak peduli aturan dan akhirnya merusak tempat "hits" itu.

Suatu hari pernah ada seorang teman Plurk yang bikin status tentang kafe pinggir sawah di Malang yang tempatnya "hits" banget di instagram. Dia terpaksa pergi  karena diajak temannya. Sebenarnya dia males, mengingat waktu itu bertepatan dengan weekend.

Bener aja firasatnya. Tempat itu RUWAME BUWANGET. Kebayang nggak sih berdesak-desakan di kafe yang nggak seberapa besar, sampe pas mau order makanan aja waiternya bilang, "Maaf, udah habis Mbak". Segitunya banget?


https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/56/d1/da/56d1da3fd82a211888e3c4f42aea8039.jpg
Really, people?

Selain rela berdesak-desakan, ada juga yang nggak peduli aturan demi cap "anak hits" dan merusak tempat yang instagramable itu. Masih inget kasus taman bunga di Wonosari? Baru beberapa hari dibuka untuk umum, tempat itu langsung diserbu "anak hits". Saking terobsesinya jadi anak hits, mereka nggak peduli saat menginjak bahkan duduk di barisan bunga-bunga yang merekah indah.

Kebun Bunga Puspa Patuk Amarilis di Patuk, Gunungkidul, yang rusak dalam beberapa hari setelah heboh di media sosial (source)

KZL W YAQIN.

2. Kamera depan jelek? Mood bubar jalan.

"Eh selfie yuk!"
"Yuk"
*buka kamera depan*
"Yah, kok keliatan burem? Sini pake kamera depanmu aja yang bagus"
"Yah, bateraiku abis..."
"Ih, nyebelin. Bete ah."

Waduh, susah juga ya kalau mood jadi bubar jalan karena kamera depan yang jelek. Front camera feels like everything sih saat ini. Kenapa? It makes us looks cuter and slimmer. LOL. Kamera depan juga lebih gampang cekrak cekrek tanpa harus ribet minta tolong orang lain.

https://media.giphy.com/media/12T4cSehryPEFa/giphy.gif
Cekrak-cekrek pake hape jadul

Sadar nggak sadar, kamera depan adalah fitur yang jadi pertimbangan utama kita saat membeli smartphone baru. Iya atau iya? HAHAHA. Secara nggak sadar juga, mindset ini tertanam dari iklan-iklan smartphone yang menawarkan kamera depan sebagai fitur andalannya.

3. BBM di-delcon? Kalau mau ngajak musuhan nggak usah nanggung-nanggung!

Musuhan sama orang karena kontak BBM dihapus (deleted contact)? Itu yang saya alami sendiri. HAAAHAHAHAHAHAHAHA.


Maaf, itu ketawa malu.

Saya pernah nyinyir orang yang update tweet, "Kalo mau ngajak musuhan gosah nanggung-nanggung!" setelah tahu BBMya di-delcon sama oranga lain. Sampai suatu hari, hal itu terjadi pada diri saya sendiri. Nggak tahu kenapa kok kontak saya dihapus. Saya cuma bisa menebak-nebak kenapa kok kontak saya sampe dihapus. Tapi dari situ saya sebel banget sampe pada akhirnya saya unfriend semua pertemanan dengan ybs di media sosial.

PARAH BANGET NGGAK SIH WOY.


 https://media1.popsugar-assets.com/files/thumbor/71NNRYQsiiGkGOxSvjfFEHniP9o/fit-in/1024x1024/filters:format_auto-!!-:strip_icc-!!-/2014/04/08/924/n/1922283/270798262c0ff3a9_9137_c3ec/i/Im-surprised-her-eyes-dont-get-stuck-looking-up-here.gif
Aduh, nggak tahan deh kalau inget-inget lagi

Memang ada kalanya kita harus terpaksa menelan ludah sendiri. Saat itu terjadi, rasanya pahit banget. Setelah saya renungkan lagi, perilaku saya bener-bener nggak dewasa. Saya seharusnya tanya ke orang itu dulu alasannya ngehapus kontak saya. Mungkin dari situ, saya bisa tahu dan introspeksi diri. Tapi, saya sudah terlanjur early judging dan pada akhirnya putuslah tali silaturahmi hanya karena hal sepele seperti ini.

Kalau kamu pernah melakukan khilaf yang sama, berpikirlah lebih jernih sebelum bertindak.

4. Sibuk dengan gadget sampe lupa bersosialisasi di dunia nyata

Pernah ketemu segerombolan orang yang gaduh sekali di tempat hits cuma buat foto-foto? Begitu selesai, suasana langsung sepi. Mereka pulang? Nggak. Mereka sibuk dengan smartphone masing-masing, memanfaatkan koneksi nirkabel dulu untuk update foto tanpa ngobrol satu sama lain.

Mungkin hal ini sering terjadi pada kita yang sudah terlanjur asyik jumlah "like" dan "comment" yang jadi parameter kesuksesan di media sosial. Hal ini pula yang bikin kita lupa dengan kehidupan kita yang sebenarnya.


https://media.giphy.com/media/AAtGWPk8GOYes/giphy.gif
Seems not what it seems...

Apa yang ada di media sosial adalah "hal baik" yang diperlihatkan dari sudut tertentu. Di belakangnya, kita nggak pernah tahu apa yang terjadi. Kita tahunya orang lain cuma senang-senang saja, sehingga kita nggak merasa ada "sesuatu" yang terjadi di sisi lain. Tiba-tiba dia melakukan sesuatu di luar nalar yang bikin kita semua bertanya dalam hati, "Kok bisa gitu? Kayanya dia selama ini fine  aja".

Media sosial ternyata tidak hanya mendekatkan yang jauh, tapi juga bisa menjauhkan yang dekat. Semu banget, kan?

5. Baterai gadget dan paket data habis? BENCANA!

Ini termasuk bencana kecil kalau buat saya. Entah saya yang sudah terlalu medewakan barang-barang tersebut atau bagaimana, tapi yang jelas kerjaan saya semuanya ada di situ. Menjadi freelancer dengan klien yang kebanyakan ada di luar kota membuat saya terpaksa harus siaga 24/7 untuk berkomunikasi dengan mereka. Kesempatan bisa hilang kalau ada tawaran tapi nggak langsung direspon. Sedih, kan?


Kalau kita pekerja milenial, memang ada baiknya kalau kita "set" waktu sendiri untuk bekerja. Saya ingin biasakan untuk tidak terobsesi 24/7 harus mantengin smartphone terus. Sampai saat ini saya masih belum menemukan pola kerja yang tepat. Ini karena saya juga mahasiswa akhir yang lebih memprioritaskan skripsi daripada pekerjaan. Mugkin saya harus mulai biasakan untuk ikhlas kalau ada suatu pekerjaan yang "lepas" karena slow-respon. Berarti kerjaan itu belum rejeki saya dan saya bisa lebih optimis menjemput rejeki-rejeki yang lain.

http://gifs.unwiredcouch.com/gossip-girl/gossip-girl-blair-sunglasses.gif
Yak, fokus!

Dari kelima poin di atas, saya sadar bahwa masalah-masalah sepele ini bisa jadi masalah yang serius. Social media and techlonogy often consume ourselves in any way. Tentunya ini akan terjadi saat kita tidak bisa menyikapinya dengan bijaksana. Siapa yang paling rugi? Jelas diri kita sendiri.

Oleh karena itu, mulai saat ini mari kita mulai jadi milenial yang bermanfaat. Manfaatkan media sosial dan teknologi untuk kebaikan. Jangan sampai waktu kita terbuang percuma untuk mengurusi hal-hal yang nirfaedah. Semoga kita semua makin cerdas dan bijaksana, ya! See you on the next post!