Refleksi Akhir Q3 dan Segala Hal yang Terjadi di Antaranya

Refleksi Akhir Q3

Nggak ada niat selain ingin mencurahkan isi hati tentang segala hal yang terjadi tahun 2026. Ada banyak momen yang eye-opening buat saya. 

Hidup memaksa saya untuk terus menerus beradaptasi dengan beraneka macam new normal. Beberapa di antaranya berupa rutinitas sebagai istri dan caregiver, yang akan saya ceritakan di postingan blog ini.

Menikah dengan laki-laki yang ditakdirkan Allah sebagai suami saya, rasanya senang sekali. Bisa menikah dengannya pun menjadi momen yang nggak pernah saya duga. 

Sebelumnya saya pernah berpacaran putus-nyambung dengan mantan hingga 10 tahun. Waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa saya selalu berusaha kembali ke hubungan yang nggak sehat, baik bagi saya maupun mantan.

Sedikit Cerita Masa Lalu


Mantan saya pernah mengungkapkan isi hatinya, merefleksikan tentang hubungan kami di suatu platform media sosial. Apapun yang dia tulis valid. 

Untuknya. Bagi saya, nggak semuanya. 

Ada beberapa cerita beredar, berspekulasi tentang hubungan kami. Menarik, karena saya bahkan baru mengetahui beberapa hal tentang dia lewat cerita yang beredar tersebut. 

Mungkin itu yang dimaksud dengan see and wait. Saya nggak perlu repot mengorek, tiba-tiba ada si itu bersaksi bahwa dia begini dan si ini berkata bahwa dia begitu. Benar nggaknya, saya nggak tahu. 

Buat saya itu sesuatu yang menarik aja, terlepas dari kebenarannya seperti apa. Untuk saat ini, saya sudah melepas semuanya. Nggak berharap apapun untuknya karena sudah bukan bagian hidup saya.

Menjalani Tahun Pertama Pernikahan


Terlepas dari masa lalu tersebut, saya merasa pernikahan pada tahun pertama begitu menantang. Transisi dari "aku" menjadi "kita" ternyata nggak semudah itu. 

Saya bahkan sudah di titik memahami keputusan seorang teman yang hanya menikah 2 minggu. 

Memang pernikahan tuh serumit dan sekompleks itu. Nggak heran kalau ikatan ini dinilai sebagai penyempurna separuh agama di Islam.

Refleksi Akhir Q3

Saya memutuskan kembali berkonsultasi ke psikolog langganan saya pada Januari-Maret dan Juli-September tahun ini. Kita panggil dia dengan julukan Kak R. 

Ada banyak hal yang saya konsultasikan dengan Kak R, terutama tentang dinamika hubungan saya dengan suami dan keluarga besar kami. Dinamika yang nggak begitu mengganggu pikiran sampe akhirnya saya jalani sendiri.

Dan syukurnya, saya menjalani ini semua dengan suami. Terima kasih udah selalu berusaha meyakinkan saat diri ini kerap meragu.

Ujian Demi Ujian Tak Terduga


Ujian pernikahan pada tahun pertama umumnya berkisar pada penyesuaian rutinitas dan komunikasi. Itu yang saya asumsikan sebelumnya. Ternyata ada berbagai macam hal yang saya hadapi dengan suami. Salah satunya adalah kondisi kesehatan orang tua.

Sudah sebulan ini bapak saya menjalani perawatan stroke. Di usianya, serangan stroke merupakan sesuatu yang lumrah. Tapi bagi saya, bapak terkena stroke adalah hal yang tidak pernah saya duga.

Bapak adalah salah satu orang terdisiplin di sekitar saya. Disiplin berolahraga, menjaga pola makan dan rutin konsumsi obat-obatan. Sampai bulan lalu, beliau sempat skip obat selama 2 hari di antara perjalanan kerjanya. 

FYI, bapak bekerja sebagai travel guide dan sempat menemani tamu mendaki ke Bromo dan Ijen. Perkejaannya termasuk stressful dengan agenda bepergian yang tergolong padat dan istirahat yang minim.

Apa yang terjadi pada bapak otomatis mempengaruhi kehidupan keluarga saya. Walau saya sudah menikah dan memiliki suami sebagai kepala keluarga saya, tapi kondisi bapak saat ini membuat saya menjadi kepala keluarga baru. Banyak keputusan yang perlu saya ambil terkait kondisi beliau dan keluarga secara general.

Adaptasi yang Berkelanjutan


Melelahkan. Saya juga takjub bisa bertahan sejauh ini dengan segala hal yang terjadi pada tahun pertama pernikahan ini. Walau secara keseluruhan ini terasa berat, saya tetap bersyukur. Ada banyak rejeki berupa kesehatan dan hubungan pertemanan yang banyak membantu saya melewati kesulitasn ini.

Menjelang akhir quarter ketiga tahun ini, saya hanya ingin menjalani hidup dengan lebih tenang. Menjadi medioker adalah sebuah kemewahan bagi saya. Semoga kehidupan yang dar der dor ini selalu menemukan jalannya menuju ke keseimbangan yang menenangkan, terutama bagi saya dan keluarga.




Share:

Post a Comment

Copyright © A Girl Thoughts - Beauty & Lifestyle Blog. Designed by OddThemes